SULAWESI TENGAH — Kebijakan imigrasi yang ketat sempat membuat Iran merasa menjadi tim paling “tertindas” di Piala Dunia 2026. Pelatih Amir Ghalenoei bahkan sudah menyiapkan protes resmi ke FIFA soal pembatasan yang mereka sebut merugikan persiapan tim. Namun, setelah negosiasi intensif, DHS akhirnya melonggarkan aturan khusus untuk laga krusial di Seattle.
Dari 24 Jam Jadi 48 Jam: Kelonggaran di Menit Akhir
Dalam pernyataan resmi kepada NBC, Selasa (24/6), juru bicara DHS mengonfirmasi perubahan jadwal perjalanan Iran. “Tim akan diizinkan masuk dua hari sebelum pertandingan, dan diminta keluar pada malam yang sama saat laga berakhir,” ujar sang juru bicara.
Kelonggaran ini menjadi angin segar setelah Iran menjalani dua pertandingan pertama dengan tekanan ekstrem. Mereka hanya punya waktu 24 jam untuk masuk AS, main, lalu langsung kembali ke Meksiko tempat mereka menjalani pemusatan latihan.
Kapten Taremi Sebut Logistik Bencana, Pelatih Ngaku Paling Tertindas
Kapten Iran, Mehdi Taremi, tak bisa menyembunyikan frustrasinya. Ia menyebut situasi logistik beberapa pekan terakhir sebagai “bencana”. Ghalenoei bahkan blak-blakan menyebut timnya sebagai tim yang paling dirugikan di turnamen ini. “Kami yang paling tertindas,” katanya usai laga melawan Selandia Baru.
Kebijakan ini memang berdampak besar pada pemulihan pasca-pertandingan. Dengan jadwal pulang-pergi yang padat, pemain kehilangan waktu istirahat optimal. Ini krusial mengingat Iran masih punya peluang lolos ke fase gugur jika menang atas Mesir.
Pertaruhan di Seattle: Menang atau Pulang
Saat ini Iran berada di posisi yang cukup menjanjikan. Dua hasil imbang membuat mereka masih hidup di Grup G. Jika berhasil mengalahkan Mesir, tiket ke babak 16 besar sudah di tangan. Hasil imbang pun mungkin cukup tergantung hasil pertandingan lain.
Yang menarik, partisipasi Iran di Piala Dunia ini terjadi di tengah ketegangan politik yang masih panas. AS dan Iran sejak Februari lalu terlibat dalam perundingan untuk mengakhiri konflik bilateral. Namun, DHS menegaskan kebijakan ini murni soal keamanan. “Presiden ingin kita bicara soal apa yang terjadi di lapangan. Itu artinya memastikan keamanan di stadion, base camp, dan lokasi latihan,” tegas juru bicara DHS.