PALU — Bunda Literasi Kota Palu, Diah Puspita, yang hadir sebagai dewan juri, menegaskan bahwa bahasa adalah fondasi identitas bangsa. “Bahasa bukan hanya alat komunikasi. Bahasa merupakan identitas, jati diri, sekaligus cerminan peradaban bangsa,” ujarnya di hadapan para finalis dan undangan, Jumat malam.
Diah yang juga Ketua TP PKK Kota Palu mengajak generasi muda menjadikan literasi sebagai gaya hidup. “Kita semua dituntut untuk tetap bangga menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Kita harus bangga dengan bahasa kita sendiri,” tegasnya.
Dari 150 Peserta, Terpilih 20 Finalis Terbaik
Kepala Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Tengah, Syarifuddin, menjelaskan bahwa proses seleksi tahun ini cukup ketat. Sebanyak 150 peserta dari berbagai kabupaten dan kota di Sulteng mendaftar, dan setelah melalui serangkaian tahapan, tersaring 20 finalis—10 putra dan 10 putri—yang kemudian menjalani pembinaan intensif sebelum grand final.
“Para Duta Bahasa memiliki peran penting dalam mendampingi kami menjalankan berbagai program kebahasaan dan kesastraan di Provinsi Sulawesi Tengah. Mereka menjadi representasi resmi dalam mengampanyekan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar di tengah masyarakat,” kata Syarifuddin dalam sambutannya.
Mitra Strategis Balai Bahasa untuk Program Literasi
Syarifuddin menambahkan, duta terpilih nantinya bukan sekadar simbol. Mereka akan menjadi mitra strategis Balai Bahasa dalam mendukung program kebahasaan dan kesastraan di daerah. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Bunda Literasi Kota Palu yang bersedia menjadi juri dan turut mendampingi program literasi yang diemban para duta.
“Terima kasih kepada Bunda Literasi Kota Palu yang berkenan hadir pada kegiatan kami hari ini. Literasi juga menjadi salah satu program yang didampingi oleh para Duta Bahasa,” ujarnya.
Dampak Nyata yang Diharapkan dari Duta Bahasa Sulteng 2026
Melalui ajang ini, Diah Puspita berharap lahir Duta Bahasa yang tidak hanya berprestasi, tetapi mampu mengemban amanah sebagai penggerak literasi. Mereka diharapkan aktif mengedukasi masyarakat dan memperkuat kecintaan terhadap bahasa Indonesia di Bumi Tadulako.
“Keberadaan Duta Bahasa sangat relevan dengan upaya peningkatan budaya baca dan literasi masyarakat. Mereka harus menjadi inspirasi dan agen perubahan yang mendorong lahirnya generasi muda literat, kreatif, serta memiliki kepedulian terhadap pelestarian bahasa dan sastra Indonesia,” pungkas Diah.