PALU — Angka tersebut menunjukkan bahwa penularan HIV/AIDS masih menjadi ancaman serius di wilayah perkotaan. Dari total 2.024 kasus yang terdata secara kumulatif, sebanyak 54 kasus baru terdeteksi dalam beberapa bulan terakhir. Lonjakan ini menjadi perhatian serius bagi pemerintah kota dan tenaga kesehatan.
Mengapa Kasus Baru Masih Terjadi?
Kepala Dinkes Kota Palu, dr. Rochmat Jasin, mengungkapkan bahwa faktor utama penyebaran masih didominasi oleh hubungan seksual berisiko dan penggunaan jarum suntik secara bergantian. Selain itu, masih rendahnya kesadaran masyarakat untuk melakukan tes HIV secara berkala juga menjadi kendala utama dalam upaya pencegahan.
"Kami terus menggencarkan sosialisasi dan layanan tes sukarela di 14 puskesmas se-Kota Palu. Namun, masih banyak warga yang datang saat kondisinya sudah parah," ujar Rochmat dalam keterangannya, Senin lalu.
Kelompok Usia Produkti Paling Terdampak
Data Dinkes mencatat, mayoritas penderita HIV/AIDS di Palu berada di rentang usia produktif, yakni 25 hingga 49 tahun. Hal ini menimbulkan kekhawatiran akan dampak jangka panjang terhadap produktivitas dan perekonomian daerah.
“Dari 54 kasus baru, sebagian besar adalah ibu rumah tangga dan pekerja swasta. Ini menunjukkan bahwa penularan sudah merambah ke kelompok yang tidak masuk dalam kategori risiko tinggi,” tambah Rochmat.
Langkah Pemkot Palu: Perluas Akses Terapi ARV
Pemerintah Kota Palu melalui Dinkes setempat telah menyediakan layanan terapi antiretroviral (ARV) gratis di seluruh puskesmas dan rumah sakit rujukan. Terapi ARV bertujuan menekan jumlah virus dalam tubuh penderita sehingga mereka bisa hidup produktif dan mencegah penularan lebih lanjut.
“Kami juga bekerja sama dengan komunitas peduli AIDS untuk menjangkau kelompok-kelompok yang sulit diakses. Pendekatan secara personal dan tanpa stigma menjadi kunci,” jelas Rochmat.
Apa Tantangan Terbesar ke Depan?
Meskipun layanan sudah tersedia, masih ada penderita yang enggan berobat secara rutin karena takut diketahui statusnya oleh lingkungan sekitar. Stigma dan diskriminasi dinilai menjadi penghalang utama dalam pengendalian epidemi HIV/AIDS di Palu.
Dinkes Kota Palu menargetkan untuk menemukan dan mengobati seluruh penderita HIV/AIDS yang belum terdeteksi. Target ambisius ini membutuhkan partisipasi aktif masyarakat untuk tidak takut melakukan tes dan memutus rantai penularan.