Pencarian

IHSG Anjlok 1,46% ke 5.854 di Sesi I, Kapitalisasi Pasar Lenyap Ratusan Triliun dalam Sebulan

Kamis, 04 Juni 2026 • 10:34:01 WIB
IHSG Anjlok 1,46% ke 5.854 di Sesi I, Kapitalisasi Pasar Lenyap Ratusan Triliun dalam Sebulan
IHSG melemah 1,46% ke posisi 5.854 pada sesi I perdagangan hari ini.

SULAWESI TENGAH — Pukul 09.05 WIB, IHSG tercatat di posisi 5.854, melemah 1,46% dari level penutupan sebelumnya. Indeks sempat menyentuh titik terendah intraday di 5.852, hanya 2 poin dari level psikologis 5.800-an. Nilai transaksi pagi ini mencapai Rp 1,18 triliun dengan volume 1,95 miliar lembar saham, menandakan tekanan jual masih dominan sejak bel pembukaan.

415 Saham Merah, Hanya 100 Saham Bertahan Hijau

Dari total 681 saham yang diperdagangkan, sebanyak 415 saham ditutup melemah, sementara hanya 100 saham yang menguat dan 166 saham stagnan. Rasio ini menunjukkan tekanan jual menyebar ke hampir seluruh sektor, tidak terbatas pada saham-saham berkapitalisasi besar.

Secara year-to-date, IHSG sudah ambles 32,24%. Jika dihitung dalam enam bulan terakhir, indeks melemah 30,20%, sementara dalam tiga bulan terakhir koreksi mencapai 28,65%. Dalam lima hari perdagangan terakhir saja, IHSG sudah turun 5,59%.

Faktor Pemicu: Sentimen Global dan Arus Keluar Asing

Tekanan jual di pasar saham domestik tidak lepas dari sikap wait-and-see investor global menjelang data inflasi Amerika Serikat yang akan dirilis akhir pekan ini. Kekhawatiran akan suku bunga tinggi lebih lama kembali menguat, mendorong aliran dana keluar dari pasar emerging market, termasuk Indonesia.

Data RTI menunjukkan level tertinggi IHSG hari ini hanya mencapai 5.924, jauh di bawah level psikologis 6.000 yang sempat dipertahankan sepekan lalu. Artinya, reli pemulihan intraday pun tidak cukup kuat untuk membalikkan arah.

Level 5.800 Jadi Garis Hidup Berikutnya

Dengan IHSG yang sudah mendekati 5.800, pelaku pasar kini mencermati level support berikutnya. Jika indeks tembus ke bawah 5.800, bukan tidak mungkin koreksi berlanjut menuju level 5.500-an yang terakhir terjadi saat pandemi 2020.

Investor ritel disarankan mencermati sektor defensif seperti barang konsumsi dan infrastruktur yang relatif lebih tahan banting di tengah tekanan pasar. Sementara itu, saham perbankan dan properti masih menjadi sektor yang paling tertekan akibat kekhawatiran kenaikan kredit macet dan perlambatan ekonomi.

Disclaimer: Investasi mengandung risiko. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan investor.

Bagikan
Sumber: finance.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks