SULAWESI TENGAH — Pada pukul 09.00 WIB, rupiah diperdagangkan di level Rp17.878 per dolar AS, melemah 39 poin atau 0,22 persen dibandingkan penutupan sesi sebelumnya. Angka ini merupakan yang terlemah dalam beberapa pekan terakhir dan hanya berjarak 22 poin dari ambang batas Rp17.900.
Mata Uang Asia Terbelah, Minyak Jadi Pemicu Utama
Tekanan tidak hanya dirasakan oleh rupiah. Sejumlah mata uang regional juga terpantau lesu, dengan ringgit Malaysia menjadi yang paling tertekan setelah turun 0,25 persen. Yuan China dan peso Filipina juga ikut terkoreksi masing-masing 0,05 persen dan 0,03 persen.
Di sisi lain, won Korea Selatan dan yen Jepang justru mencatat penguatan tipis, menunjukkan pergerakan yang bervariasi di kawasan Asia. Namun, analis menilai bahwa sentimen risk-off masih mendominasi pasar pagi ini.
Analis: Eskalasi Konflik Mendongkrak Harga Minyak, Rupiah Tertekan
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan bahwa kekhawatiran pasar terhadap prospek perdamaian di Timur Tengah menjadi biang kerok utama pelemahan rupiah. "Eskalasi baru di Timur Tengah memicu kekhawatiran terhadap prospek perdamaian dan mendorong lonjakan harga minyak dunia. Kondisi ini berpotensi menekan rupiah terhadap dolar AS," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com.
Kenaikan harga minyak biasanya menjadi kabar buruk bagi negara importir minyak seperti Indonesia, karena akan memperbesar biaya impor dan melebarkan defisit transaksi berjalan. Hal ini pada akhirnya menekan nilai tukar rupiah.
Rentang Pergerakan Hari Ini: Rp17.800 hingga Rp17.900
Lukman memperkirakan pergerakan rupiah akan berada dalam rentang Rp17.800 hingga Rp17.900 per dolar AS pada perdagangan hari ini. Artinya, potensi tembus ke level psikologis Rp17.900 masih terbuka lebar jika tekanan beli dolar AS terus berlanjut.
Pelaku pasar disarankan untuk mencermati perkembangan geopolitik di Timur Tengah dan pergerakan harga minyak mentah dunia sebagai indikasi arah pergerakan rupiah selanjutnya.
Apa Artinya bagi Investor dan Pelaku Bisnis?
Bagi investor di pasar saham dan obligasi, pelemahan rupiah yang berkepanjangan bisa menjadi sentimen negatif karena meningkatkan risiko kerugian selisih kurs. Sementara itu, bagi pelaku bisnis yang memiliki utang dalam dolar AS atau ketergantungan pada bahan baku impor, biaya operasional berpotensi membengkak.
Investasi mengandung risiko.