BANGGAI — Program rehabilitasi terumbu karang yang dijalankan PT Donggi-Senoro LNG (DSLNG) sejak 2018 di perairan sekitar fasilitas kilangnya menunjukkan hasil nyata. Data pemantauan terbaru mencatat status ekologi di tiga titik utama—Condensate Jetty, LNG Jetty, dan Maleo Center—berada dalam kondisi sangat baik.
Indeks keanekaragaman (diversity index) di ketiga lokasi itu masuk kategori tinggi, yang berarti variasi spesies yang hidup di sana sangat kaya. Indeks kemerataan (evenness index) juga tinggi, menandakan populasi setiap spesies tersebar secara proporsional. Sementara indeks dominansi (dominance index) rendah, mengonfirmasi tidak ada satu spesies pun yang mendominasi secara destruktif.
Metode Ilmiah di Bawah Laut untuk Memantau Kesehatan Karang
DSLNG tidak sekadar menanam bibit karang lalu membiarkannya. Perusahaan menggandeng penyelam bersertifikat yang juga ahli biologi laut untuk melakukan survei bawah air secara berkala. Metode yang digunakan mencakup pengamatan kelimpahan ikan, dokumentasi visual periodik, hingga analisis indeks ekologi.
Environment Officer DSLNG, Ridwan Alfarisi, memaparkan hasil kerja timnya di ajang Indonesian Petroleum Association Convention and Exhibition (IPA Convex) 2026 yang berlangsung di ICE BSD, Tangerang, Rabu (20/5/2026). Menurutnya, program ini bukan kegiatan musiman melainkan bagian dari dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RKL-RPL) yang sudah berjalan sejak kilang beroperasi pada 2015.
“Seluruh manajemen lingkungan, termasuk perlindungan wilayah perairan sekitar LNG jetty, condensate jetty, hingga fasilitas marinir lainnya berada di bawah pengawasan program RKL-RPL yang komprehensif,” ujar Ridwan di booth utama DSLNG.
Dari 2015 ke 2026: Konsistensi Sewindu yang Berbuah Indeks Tinggi
Kilang pemrosesan LNG di Banggai ini mulai beroperasi penuh pada 2015. Dua tahun setelahnya, perusahaan mulai merancang program transplantasi karang yang baru dieksekusi secara konsisten pada 2018. Artinya, butuh waktu delapan tahun bagi tim lingkungan DSLNG untuk mengembalikan fungsi ekologis perairan sekitar kilang ke level optimal.
“Saat ini, seluruh terumbu karang di wilayah perairan yang berada di sekitar kilang dalam kondisi yang sangat baik dan terjaga. Berbagai macam biota laut kini dapat hidup, tumbuh, dan berkembang dengan sangat sehat di habitat tersebut,” pungkas Ridwan.
Paparan di IPA Convex 2026 ini sekaligus menegaskan posisi DSLNG sebagai salah satu operator migas di Indonesia timur yang mencoba mengawinkan target produksi dengan prinsip pembangunan berkelanjutan. Data ekologi yang dirilis menjadi bukti bahwa tekanan operasional industri tidak selalu berarti tekanan terhadap lingkungan—selama ada rencana pengelolaan yang ketat dan konsisten dijalankan.