SULAWESI TENGAH — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 57 poin atau 1,14 persen ke level 5.053 pada pembukaan perdagangan Selasa (20/10). Penguatan terjadi setelah indeks sempat melemah ke 4.980 di awal sesi. Dari 715 saham yang diperdagangkan, 249 menguat, 327 melemah, dan 139 stagnan.
Data RTI Business pukul 09.03 WIB mencatat IHSG menyentuh level tertinggi 5.056 pada awal perdagangan. Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) tercatat Rp 8.925,437 triliun.
Volume perdagangan mencapai 5,48 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 2,83 triliun. Frekuensi transaksi tercatat 128.757 kali sepanjang periode pembukaan.
Analis Teknikal MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memperkirakan IHSG masih berpeluang menguat dalam jangka pendek. Target pengujian berada di area 5.046-5.133.
Herditya mengingatkan investor soal risiko pembalikan arah. Koreksi berpotensi membawa indeks ke rentang 4.766-4.846.
"Pada timeframe kecil, IHSG diperkirakan berada pada bagian wave iii dari wave (iii) dari wave [v]. Penguatan masih berpeluang berlanjut ke 5.046-5.133, tetapi waspadai pembalikan arah menuju 4.766-4.846," ujar Herditya dalam riset hariannya.
Untuk perdagangan hari ini, MNC Sekuritas memproyeksikan IHSG bergerak di support 4.915 dan 4.754, dengan resistance 5.318 dan 5.563.
Pandangan berbeda datang dari Analis Binaartha Sekuritas Ivan Rosanova. Ivan menilai indeks saham masih berpotensi melanjutkan pelemahan karena tren koreksi diperkirakan belum selesai.
Meski begitu, peluang rebound tetap terbuka. Syaratnya, IHSG mampu bertahan di atas level 4.737 pada penutupan mingguan, kendati penguatannya diperkirakan terbatas.
"IHSG hampir mencapai target Fibonacci 200 persen di level 4.737 sebagai proyeksi subwave iii dari wave v. Jika penutupan mingguan bertahan di level 4.737 atau lebih tinggi, indeks diharapkan dapat mengalami rebound," ujar Ivan.
Binaartha memprediksi IHSG bergerak di support 4.900, 4.767, dan 4.629. Sementara resistance berada di 5.068, 5.167, dan 5.328.
Meski indeks menguat, jumlah saham melemah lebih banyak ketimbang yang naik. Sebanyak 327 saham terkoreksi berbanding 249 saham yang menguat, sementara 139 saham stagnan.
Komposisi itu menandakan penguatan indeks belum merata ke seluruh pasar. Bagi investor, selisih 78 saham yang melemah lebih banyak ini patut dicermati saat menyusun strategi perdagangan jangka pendek.
Level 4.737 menjadi titik krusial yang disebut kedua analis. Selama indeks bertahan di atas area itu hingga penutupan pekan, peluang rebound masih terbuka. Sebaliknya, kegagalan mempertahankannya memperbesar risiko koreksi lanjutan ke rentang 4.766-4.846 seperti proyeksi MNC Sekuritas.