SULAWESI TENGAH — ByteDance dikabarkan hampir mencapai kesepakatan dengan MediaTek untuk membeli chip AI custom yang akan dipakai di data center, bukan untuk bisnis smartphone. Chip berjenis ASIC itu dirancang khusus memenuhi kebutuhan komputasi AI perusahaan induk TikTok tersebut. Langkah ini menandai upaya ByteDance mencari alternatif chip di tengah pembatasan ekspor teknologi Amerika Serikat.
Kesepakatan pembelian chip AI custom antara ByteDance dan MediaTek disebut tinggal selangkah lagi. Laporan Bloomberg yang mengutip sumber yang mengetahui pembicaraan tersebut menyebut kedua perusahaan belum menandatangani kontrak final. ByteDance maupun MediaTek juga belum memberi konfirmasi resmi soal kerja sama ini.
Selama ini MediaTek dikenal sebagai pemasok system-on-chip Dimensity untuk perangkat smartphone. Kerja sama dengan ByteDance membawa produsen chip asal Taiwan itu ke wilayah bisnis yang berbeda, yakni prosesor untuk kebutuhan data center.
MediaTek dilaporkan akan menyediakan Application-Specific Integrated Circuits (ASIC), yaitu chip yang dirancang khusus untuk kebutuhan dan platform tertentu. Chip jenis ini berbeda dari prosesor serbaguna karena fungsinya dipatok untuk beban kerja spesifik.
ByteDance akan memakai chip tersebut untuk mendukung pengembangan infrastruktur AI miliknya. Jumlah chip yang akan disediakan dalam kesepakatan ini masih belum diketahui.
Kebutuhan komputasi AI ByteDance terus meningkat seiring ekspansi layanan berbasis kecerdasan buatan. Perusahaan menghadapi kendala akses terhadap chip AI tercanggih dari NVIDIA akibat pembatasan ekspor yang diberlakukan Amerika Serikat.
Kondisi itu memaksa ByteDance mencari jalur pengadaan lain. Sebelumnya, perusahaan dikabarkan telah menjalin kesepakatan dengan Qualcomm untuk pengadaan chip AI. ByteDance juga dilaporkan menandatangani kontrak pembelian chip AI Huawei senilai 40 miliar yuan atau sekitar Rp90-an triliun.
Kontrak dengan Huawei tersebut berjalan selama beberapa tahun mulai 2026. Langkah ini menandai pergeseran arah pengadaan ByteDance di tengah sulitnya mendapatkan GPU NVIDIA.
Jika kesepakatan terealisasi, ByteDance berpotensi menjadi pelanggan besar kedua untuk bisnis ASIC data center MediaTek, setelah Google. Posisi itu memberi MediaTek pijakan lebih kuat di pasar chip AI untuk data center yang terus berkembang.
Bagi MediaTek, kerja sama ini membuka diversifikasi bisnis di luar prosesor mobile yang selama ini jadi tulang punggung pendapatannya. Segmen ASIC data center dikenal punya nilai kontrak besar dan berjangka panjang.
Langkah ByteDance mencerminkan pola yang meluas di kalangan perusahaan teknologi China: mengurangi ketergantungan pada pemasok Amerika Serikat dengan merancang atau membeli chip custom. Model ASIC memungkinkan perusahaan menyesuaikan chip dengan arsitektur AI internal mereka.
MediaTek sendiri bukan pemain baru di segmen ini, meski jejaknya di pasar data center jauh lebih kecil dibanding posisinya di pasar smartphone. Kontrak dengan ByteDance, jika final, bisa menjadi referensi bagi calon pelanggan lain di kawasan.
Kesepakatan ByteDance-MediaTek belum final, sehingga nilai transaksi, volume chip, dan jadwal pengiriman masih belum bisa dipastikan. Perkembangan berikutnya akan bergantung pada hasil negosiasi kedua perusahaan dan kondisi regulasi ekspor yang berlaku.