Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.547, JISDOR BI Justru Menguat ke Rp17.536

Penulis: Oki Setiawan  •  Jumat, 11 September 2026 | 09:18:31 WIB
Rupiah ditutup melemah ke Rp17.547 per dolar AS pada perdagangan 10 September 2026.

SULAWESI TENGAH — Berdasarkan data penutupan pasar, rupiah dibuka di sekitar Rp17.520 per dolar AS pada Kamis pagi sebelum akhirnya terdepresiasi ke Rp17.547. Posisi tersebut menjadi acuan awal perdagangan Jumat, 11 September 2026.

Sementara itu, Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang dirilis Bank Indonesia menunjukkan pergerakan berlawanan. Pada 10 September, JISDOR berada di Rp17.536 per dolar AS, turun dari Rp17.552 sehari sebelumnya.

JISDOR Turun Empat Hari Berturut-turut

Pergerakan JISDOR dalam sepekan terakhir menunjukkan tren penguatan rupiah secara referensi, meski kurs pasar spot bergerak sebaliknya. Data BI mencatat JISDOR turun dari Rp17.653 pada 7 September menjadi Rp17.536 pada 10 September.

Penurunan JISDOR tersebut mencerminkan apresiasi sekitar Rp117 per dolar AS dalam empat hari perdagangan. Namun, pasar spot justru mencatat pelemahan pada hari yang sama.

Perbedaan ini lazim terjadi karena JISDOR dihitung dari rata-rata transaksi spot USD/IDR antarbank dengan metodologi Bank Indonesia, sementara kurs pasar mencerminkan harga transaksi yang lebih luas termasuk permintaan korporasi dan investor asing.

Kurs Jual-Beli BI Jadi Referensi Transaksi

Bank Indonesia juga memperbarui Kurs Transaksi BI untuk dolar AS per 10 September 2026. Kurs jual berada di Rp17.639,76 per USD, sedangkan kurs beli di Rp17.464,24 per USD.

Kurs Transaksi BI digunakan sebagai referensi transaksi BI dengan pihak ketiga. Adapun JISDOR menjadi acuan harga spot USD/IDR di pasar valuta asing domestik.

Bagi importir dan korporasi dengan eksposur valas, selisih kurs jual-beli sekitar Rp175 per dolar AS menjadi pertimbangan biaya konversi. Money changer dan bank umumnya menerapkan spread lebih lebar di atas referensi BI.

Harga Minyak dan Fed Jadi Pemicu Utama

Tekanan terhadap rupiah datang dari kenaikan harga minyak dunia. Indonesia yang masih bergantung pada impor energi menghadapi risiko pelebaran defisit neraca dagang ketika harga minyak naik.

Pelaku pasar juga mencermati arah kebijakan suku bunga Federal Reserve. Setiap sinyal hawkish dari bank sentral AS berpotensi memperkuat dolar AS dan menekan mata uang emerging market, termasuk rupiah.

Analis memperkirakan rupiah pada Jumat bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di kisaran Rp17.540–Rp17.590 per dolar AS. Proyeksi tersebut merupakan estimasi analis, bukan kurs resmi.

Posisi Rp17.500-an Jadi Area Kunci

Level Rp17.500 per dolar AS menjadi zona penting yang diperhatikan pelaku pasar. JISDOR menunjukkan penguatan, tetapi kurs spot justru melemah pada hari yang sama.

Ketidakselarasan ini membuat pelaku usaha perlu memantau kedua indikator sebelum mengambil keputusan lindung nilai. JISDOR cocok sebagai acuan valuasi harian, sedangkan kurs pasar lebih relevan untuk eksekusi transaksi riil.

Untuk perdagangan 11 September, acuan terakhir adalah 1 USD setara Rp17.547 berdasarkan penutupan pasar 10 September, sementara JISDOR terbaru di Rp17.536 per USD. Nilai tukar dapat berubah sepanjang hari mengikuti transaksi pasar.

Investasi mengandung risiko.

Reporter: Oki Setiawan
Sumber: mediata.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top