SULAWESI TENGAH — Bloomberg Technoz melaporkan, analis komoditas sekaligus pendiri Traderindo, Wahyu Laksono, memproyeksikan penyesuaian harga BBM nonsubsidi pada bulan depan. Perhitungannya didasarkan pada pergerakan keekonomian terbaru, bukan sekadar asumsi pasar.
Untuk kategori bensin RON 92 atau Pertamax, potensi kenaikan berkisar Rp300 hingga Rp550 per liter. Sementara varian beroktan lebih tinggi, seperti Pertamax Turbo (RON 95) dan Pertamax Racing (RON 98), berpotensi naik lebih besar.
Wahyu menjelaskan, varian dengan oktan lebih tinggi memang punya ruang penyesuaian lebih lebar. "Untuk varian dengan oktan lebih tinggi [RON 95 dan RON 98], potensi kenaikannya berada di kisaran Rp450 hingga Rp750 per liter," ujarnya saat dihubungi Senin (31/8/2026).
Artinya, pengguna Pertamax Turbo dan Pertamax Racing akan merasakan beban tambahan lebih besar dibanding pemilik kendaraan yang memakai Pertamax standar.
Jika realisasi kenaikan mengikuti proyeksi ini, harga Pertamax di SPBU Pertamina bisa berubah signifikan. Untuk konteks, harga Pertamax saat ini masih di kisaran Rp 12.500–13.000 per liter di sebagian besar wilayah Indonesia.
Waktu proyeksi ini bukan tanpa alasan. Pergerakan harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah biasanya menjadi penentu utama harga BBM nonsubsidi. Pada September, biasanya ada evaluasi berkala dari Pertamina Patra Niaga untuk menyesuaikan harga dengan realisasi keekonomian.
Wahyu tidak merinci faktor spesifik yang mendorong kenaikan, tapi tren harga minyak mentah global dan pelemahan rupiah dalam beberapa pekan terakhir kerap menjadi pemicu.
Kenaikan ini tentu membebani pengguna kendaraan pribadi yang bergantung pada BBM nonsubsidi. Namun, ada opsi pengendalian biaya operasional:
Belum ada pernyataan resmi dari PT Pertamina Patra Niaga mengenai rencana penyesuaian harga tersebut. Kepastian baru akan keluar mendekati awal September 2026.
Konsumen disarankan memantau pengumuman resmi di aplikasi MyPertamina maupun situs web Pertamina, karena mekanisme penetapan harga BBM nonsubsidi mengikuti formula publikasi berkala.