Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) membuka peluang investasi seluas-luasnya bagi pengusaha yang ingin membangun pabrik pengolahan kakao di daerah tersebut. Langkah ini diambil untuk mendorong industrialisasi komoditas unggulan yang produksinya mencapai 126.516 ton pada 2025, dengan target utama meningkatkan nilai tambah dan kesejahteraan petani.
PALU — Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Sulteng, Muhammad Neng, mengungkapkan bahwa pihaknya tengah gencar mencari investor untuk merealisasikan pembangunan industri hilirisasi kakao. Pasalnya, selama ini sebagian besar hasil panen petani masih dijual dalam bentuk biji kering tanpa melalui proses pengolahan lebih lanjut, sehingga nilai jualnya belum optimal.
"Kami sangat membutuhkan investor untuk membangun industri hilirisasi kakao di Sulteng," kata Muhammad Neng di Palu, Rabu.
Dengan adanya pabrik pengolahan, diharapkan rantai pasok kakao tidak hanya berhenti di tingkat petani, tetapi mampu menghasilkan produk antara seperti pasta kakao, bubuk kakao, hingga cokelat olahan yang memiliki harga jual jauh lebih tinggi.
Data Dinas Perkebunan dan Peternakan Sulteng mencatat, Kabupaten Parigi Moutong menjadi penyumbang produksi kakao terbesar dengan capaian 29.683 ton atau sekitar 23,46 persen dari total produksi provinsi. Disusul Kabupaten Poso dengan produksi 22.486 ton, dan Donggala yang mencapai 17.838 ton.
Kemudian, Kabupaten Sigi mencatatkan produksi 17.524 ton, Banggai 16.621 ton, dan Morowali Utara sebesar 8.158 ton. Selebihnya berasal dari Tolitoli, Buol, Morowali, Banggai Kepulauan, Banggai Laut, serta Kota Palu yang berkontribusi paling kecil.
Untuk memastikan pasokan bahan baku berkelanjutan, Kementerian Pertanian telah menyalurkan bantuan bibit unggul sebanyak 18,7 juta batang dalam dua tahun terakhir. Program peremajaan ini menyasar kebun-kebun kakao tua milik petani yang produktivitasnya sudah menurun.
Muhammad Neng menyebut, jika bibit-bibit tersebut tumbuh dengan baik dalam kurun waktu tiga hingga empat tahun ke depan, produktivitas kakao Sulteng diproyeksikan meningkat hingga dua kali lipat dari kondisi saat ini.
"Kami punya lahan dan ada produksi, bagaimana kalau ada pabrik, tentu lebih tinggi produksinya," tegasnya.
Selama ini, sebagian besar petani kakao di Sulteng menjual hasil panennya dalam bentuk biji kering ke pedagang pengumpul. Harga jualnya pun fluktuatif dan sangat bergantung pada pasar global. Dengan adanya industri pengolahan di dalam daerah, petani tidak lagi bergantung pada rantai perdagangan panjang.
Selain meningkatkan pendapatan petani, kehadiran pabrik hilirisasi juga diproyeksikan membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat sekitar. Pemprov Sulteng berharap investor tidak hanya melihat potensi bahan baku, tetapi juga kesiapan lahan dan dukungan kebijakan yang telah disiapkan pemerintah daerah.