SULAWESI TENGAH — Keputusan pemerintah Amerika Serikat melarang Polestar berjualan di pasar AS masih menyisakan teka-teki. Dua bulan setelah pemberitahuan resmi, kepala produk dan urusan pemerintahan Polestar untuk AS, Peter Wexler, mengirim surat kepada diler pada 18 Agustus. Isinya, merek asal Swedia-Tiongkok itu belum mendapat penjelasan mengapa bisnisnya harus dihentikan, sementara Volvo masih bebas melaju di pasar yang sama.
Wexler secara gamblang menyebut perbedaan perlakuan ini janggal. Volvo EX90 yang dijual di AS menggunakan basis dan tumpukan perangkat lunak yang sama dengan Polestar 3. Kedua model bahkan dirakit di jalur produksi yang sama di pabrik Volvo, Carolina Selatan.
Dalam suratnya, Wexler menyebut tawaran mitigasi sudah beberapa kali diajukan ke Departemen Perdagangan AS. Mulai dari pembatasan lokasi penyimpanan data, siapa saja yang boleh mengaksesnya, hingga kewajiban audit dan penilaian keamanan siber independen.
Departemen Perdagangan AS menyetujui aplikasi Volvo pada Mei, lalu menolak Polestar sebulan kemudian. Padahal, pada April, pejabat terkait sempat memberi sinyal bahwa jika Volvo disetujui, Polestar kemungkinan besar akan mengikuti.
Larangan ini merupakan bagian dari penindakan luas terhadap teknologi kendaraan asal Tiongkok yang dikhawatirkan bisa digunakan untuk memata-matai warga AS lewat fitur kendaraan terhubung. Kebijakan tersebut diimplementasikan di era pemerintahan Trump, meski cikal bakalnya sudah dimulai sejak masa Biden.
Yang membuat situasi makin pelik, Polestar mengaku sempat mendapat sinyal akan diizinkan bertahan. Wexler lantas menyebut perlakuan terhadap Polestar dan Volvo ini berjalan "bertentangan dengan hukum" atau contrary to law.
Ketidakjelasan ini tidak hanya merugikan Polestar sebagai pabrikan. Sejumlah diler yang sudah berinvestasi besar ikut terdampak. Salah satunya bahkan menggugat Polestar dengan tuntutan ganti rugi minimal US$ 25 juta, setelah membangun showroom khusus yang kini terancam kehilangan fungsi.
Polestar memutuskan tidak akan mengajukan banding atas penolakan tersebut. Fokus penjualan akan dialihkan ke pasar Eropa. Penjualan Polestar di AS memang masih kecil, tercatat kurang dari 6.000 unit sepanjang tahun lalu.
Keputusan ini sekaligus menutup babak panjang ketidakpastian bagi diler dan pemilik Polestar di AS. Merek yang relatif baru itu kini harus membangun kembali pangsa pasarnya dari benua lain.