Untad Dampingi Petani Cokelat Parigi Moutong Olah Biji Fermentasi, Targetkan Jadi Ikon Pangan Sulteng

Penulis: Oki Setiawan  •  Minggu, 23 Agustus 2026 | 15:32:31 WIB
Petani Kelompok Tani Kuda Laut mengikuti pendampingan pengolahan biji cokelat fermentasi oleh tim akademisi Universitas Tadulako di Desa Gandasari Sausu, Parigi Moutong.

Tim akademisi Fakultas Pertanian Universitas Tadulako (Untad) turun langsung mendampingi Kelompok Tani Kuda Laut di Desa Gandasari Sausu, Kabupaten Parigi Moutong, untuk mengolah biji cokelat menjadi produk fermentasi bernilai tambah. Pendampingan ini dijalankan melalui Program BIMA Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026 dan menyasar peningkatan kualitas kimia, fisik, serta sensori biji cokelat agar siap bersaing di pasaran.

PALU — Kelompok Tani Kuda Laut di Desa Gandasari Sausu, Kabupaten Parigi Moutong, kini tidak lagi menjual biji cokelat mentah. Tim pengabdian masyarakat dari Fakultas Pertanian Universitas Tadulako (Untad) melatih para petani mengolah panennya menjadi biji dan tepung cokelat terfermentasi yang disebut kaya gizi dan bernilai ekonomi lebih tinggi.

Ketua Tim Pengabdi Untad, Rostiati Dg. Rahmatu, mengungkapkan pendampingan ini dirancang untuk mengubah kebiasaan lama petani yang hanya mengandalkan penjualan buah segar. "Komoditi cokelat terfermentasi dari Kelompok Tani Kuda Laut akan menghasilkan berbagai produk inovatif," jelasnya di Palu, Minggu.

Kandungan Gizi dan Proses Fermentasi yang Mengubah Rasa

Rostiati menjelaskan produk olahan ini mengandung lemak sekitar 50-57 persen, protein, karbohidrat, serta polifenol yang berfungsi sebagai antioksidan. Selain itu, ada senyawa alkaloid seperti teobromin dan kafein yang membuat cokelat fermentasi lebih diminati pasar.

Proses fermentasi menjadi kunci utama perubahan ini. Aktivitas mikroorganisme memecah gula, protein, dan polifenol dalam buah cokelat, sehingga memunculkan prekursor rasa dan aroma khas yang tidak ditemukan pada biji kering biasa.

Dari Penyuluhan hingga Bantuan Alat Pengolahan

Pendampingan yang melibatkan dosen Amalia Noviyanty dan Hauris Patti ini berjalan dalam beberapa tahap. Petani tidak hanya diberi teori, tetapi juga praktik langsung mulai dari fermentasi tradisional, pengeringan biji, hingga proses penyanggraian dan pengepresan.

Tim Untad turut menyerahkan bantuan peralatan berupa alat fermentasi, pengering, penyanggraian, dan penggiling biji kakao. "Kami memberikan bantuan alat fermentasi, alat pengering, alat penyanggraian dan penggiling biji kakao," ungkap Rostiati.

Hilirisasi Produk dan Keterlibatan Mahasiswa

Tahap akhir pendampingan menyentuh hilirisasi dan kemasan. Para petani diajari mengolah produk pangan berbasis cokelat hingga teknik pengemasan yang layak jual, sehingga hasil panen tidak hanya berhenti sebagai bahan baku mentah.

Kegiatan ini sekaligus menjadi wadah praktik bagi mahasiswa yang terlibat langsung di lapangan, sejalan dengan program pemerintah "Kampus Berdampak". Sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan Kelompok Tani Kuda Laut diharapkan melahirkan produk unggulan baru bagi Sulawesi Tengah.

"Produk ini bukan hanya menyehatkan, tapi juga punya prospek besar sebagai produk unggulan daerah yang bisa bersaing di pasaran," ujar Rostiati menambahkan.

Reporter: Oki Setiawan
Sumber: sulteng.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top