PALU — Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menyiapkan 16 unit X-ray portabel untuk memperkuat deteksi tuberkulosis (TB) di Sulawesi Tengah. Wakil Menteri Kesehatan RI Benjamin Paulus Octavianus menargetkan alat tersebut tiba di Palu paling lambat September 2026. Langkah ini diambil untuk mempercepat penemuan kasus TB secara aktif di daerah yang sebelumnya belum memiliki sarana diagnostik tersebut.
“Sulawesi Tengah akan mendapatkan 16 alat X-ray. Saya harapkan kalau bisa selambat-lambatnya September sudah sampai, jangan mundur lagi,” kata Benjamin dalam kunjungan kerja di Palu, Sabtu.
Benjamin menjelaskan, X-ray yang akan didistribusikan memiliki bobot ringan, sekitar tiga kilogram. Alat ini dirancang portabel dan dapat dibawa ke berbagai lokasi, termasuk daerah terpencil yang sulit dijangkau.
“Alat X-ray-nya seperti ini. Beratnya hanya sekitar tiga kilogram. Bisa dibawa ke mana-mana, naik sepeda motor pun cukup. X-ray ini bisa dicas sehingga dapat digunakan untuk pemeriksaan di mana-mana,” ujarnya.
Hasil pemeriksaan dari alat tersebut dapat langsung ditampilkan melalui laptop. Hal ini dinilai mendukung percepatan pemeriksaan di lapangan tanpa harus menunggu proses pengolahan data yang lama.
Pengadaan X-ray ini merupakan bagian dari strategi nasional pemerintah untuk meningkatkan penemuan kasus TB secara aktif. Selama ini, pemeriksaan banyak mengandalkan masyarakat yang datang ke fasilitas pelayanan kesehatan setelah mengalami gejala.
Dengan adanya alat portabel ini, petugas kesehatan dapat melakukan penjangkauan ke permukiman warga. Pemeriksaan tidak lagi hanya menunggu pasien datang ke puskesmas atau rumah sakit, tetapi bisa dilakukan secara proaktif di tengah komunitas.
Sebelumnya, pemerintah pusat telah mendistribusikan 278 unit X-ray ke sejumlah provinsi di Indonesia sebagai bagian dari penguatan sarana diagnostik. Sulawesi Tengah menjadi salah satu daerah penerima dalam gelombang distribusi kali ini.
Data Kemenkes mencatat penemuan kasus TB di Sulawesi Tengah pada 2025 mencapai sekitar 10.066 kasus. Tingkat pengobatan di provinsi ini terbilang tinggi, yakni sekitar 98 persen.
Meski capaian pengobatan impresif, Benjamin mengingatkan bahwa upaya pencegahan dan pemutusan rantai penularan tidak boleh diabaikan. Ia menyoroti pentingnya pemeriksaan bagi anggota keluarga yang tinggal serumah dengan pasien TB.
“Yang diobati hanya pasien TB. Orang di sekitarnya tidak diberikan pengobatan pencegahan,” katanya.
Menurut Benjamin, penularan masih mungkin terjadi di lingkungan rumah tangga. Anggota keluarga yang tinggal satu rumah dengan pasien berisiko terpapar dan berpotensi menjadi kasus baru jika tidak terdeteksi sejak dini.
Dengan kehadiran X-ray portabel ini, pemeriksaan terhadap kontak erat pasien TB bisa dilakukan lebih masif. Petugas kesehatan dapat menjangkau rumah-rumah yang dihuni pasien untuk memeriksa kondisi anggota keluarga lainnya.
Pemeriksaan ini bertujuan mengetahui apakah anggota keluarga tersebut sudah terpapar atau bahkan mengalami TB aktif. Jika ditemukan kasus, penanganan bisa segera dilakukan sehingga risiko penularan lebih luas dapat dicegah.
Kemenkes berharap dengan penguatan sarana diagnostik ini, penemuan kasus TB di Sulawesi Tengah semakin optimal. Penanganan yang lebih dini diharapkan mampu mempercepat upaya eliminasi TB di provinsi tersebut.