Universitas Tadulako (Untad) di Palu, Sulawesi Tengah, mengerahkan 1.073 mahasiswa dan 155 dosen dari tujuh perguruan tinggi untuk program Berani Magaya guna mempercepat eliminasi tuberkulosis (TB). Tahap awal menyasar Kota Palu, Kabupaten Poso, Banggai, dan Tolitoli.
PALU — Universitas Tadulako (Untad) resmi meluncurkan Program Berani Magaya (Berantas Infeksi TB, Mahasiswa Jaga dan Sayang Keluarga) sebagai langkah konkret perguruan tinggi dalam mendukung target Indonesia Bebas TB 2030. Peluncuran berlangsung di Palu, Sabtu, dihadiri langsung Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus, Wakil Menteri Dalam Negeri Akhmad Wiyagus, dan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Fauzan.
Program ini menempatkan mahasiswa sebagai agen perubahan yang turun langsung ke masyarakat. Mereka tidak hanya berperan sebagai insan akademik, tetapi juga pendamping bagi pasien TB dan keluarganya di lapangan.
Pada tahap perdana, pendampingan difokuskan di empat wilayah: Kota Palu, Kabupaten Poso, Kabupaten Banggai, dan Kabupaten Tolitoli. Kolaborasi ini melibatkan konsorsium perguruan tinggi se-Sulawesi Tengah yang tergabung dalam KITA Sulteng, di bawah koordinasi Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah XVI.
Rektor Untad, Prof. Amar, menegaskan bahwa TB bukan hanya tanggung jawab sektor kesehatan semata. Menurutnya, eliminasi penyakit ini membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, termasuk dunia pendidikan.
“Kita membangun komitmen bersama untuk eliminasi tuberkulosis. TB bukan hanya menjadi tanggung jawab sektor kesehatan saja, tetapi tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat,” ujar Prof. Amar dalam sambutannya.
Ia menambahkan, perguruan tinggi diharapkan hadir memberikan solusi nyata bagi persoalan kesehatan masyarakat melalui pendidikan, penelitian, pengabdian, dan pemberdayaan. Program Berani Magaya dirancang untuk memberikan dampak langsung melalui pendampingan, edukasi, pemantauan kepatuhan pengobatan, serta pencegahan penularan.
Prof. Amar berpesan kepada mahasiswa dan dosen yang terjun ke lapangan agar melakukan pendampingan dengan empati dan kesabaran. Menjaga kerahasiaan pasien dan menghindari stigma menjadi poin penting yang ditekankan.
“TB dapat disembuhkan apabila ditangani dan diobati secara tepat. Ini stigma yang harus dikembangkan. Karena itu, jangan mengucilkan pasien, karena yang harus kita lawan adalah penyakitnya, bukan orangnya,” katanya.
Edukasi kepada keluarga pasien dinilai krusial untuk memastikan kepatuhan pengobatan dan mencegah penularan lebih luas. Mahasiswa diminta menjadi jembatan antara keluarga, masyarakat, dan tenaga kesehatan.
Prof. Amar berharap Berani Magaya tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, melainkan berkembang menjadi gerakan sosial dan akademik yang berkelanjutan. Ia optimistis Sulawesi Tengah dapat menjadi contoh nasional bagaimana kampus bergerak bersama masyarakat mempercepat eliminasi TB.
Sinergi antara kementerian, pemerintah daerah, perguruan tinggi, tenaga kesehatan, mahasiswa, keluarga, dan masyarakat dinilai perlu terus diperkuat untuk mewujudkan target Indonesia Bebas TB pada 2030.