PALU — Proses pembangunan Rumah Tinggi, rumah adat khas Suku Kaili Da'a di Sulawesi Tengah, menjadi bukti nyata kekuatan gotong royong masyarakat setempat. Semangat kebersamaan yang selalu ada membuat proses pembuatan hunian adat ini berjalan relatif singkat dan efisien.
Kebanggaan menjadi bagian dari Suku Kaili Da'a turut mewarnai setiap tahapan pembangunan. Hal ini tercermin dari antusiasme warga yang terlibat langsung dalam proses pendirian rumah adat tersebut.
Tradisi gotong royong yang mengakar kuat di masyarakat Kaili Da'a menjadi faktor utama mengapa pembangunan Rumah Tinggi tidak memakan waktu lama. Setiap warga bahu-membahu menyelesaikan pekerjaan, mulai dari persiapan lahan hingga tahap akhir pendirian bangunan.
Semangat kebersamaan ini tidak hanya mempercepat proses fisik pembangunan, tetapi juga mempererat ikatan sosial antarwarga. Nilai-nilai leluhur yang diwariskan secara turun-temurun ini terus dijaga dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
Rumah Tinggi bukan sekadar hunian fisik bagi Suku Kaili Da'a. Bangunan ini merupakan simbol identitas budaya yang sarat makna dan filosofi. Keberadaannya menjadi penanda eksistensi dan kebanggaan komunitas adat di tengah arus modernisasi.
Dengan terlibatnya generasi muda dalam proses pembangunan, pengetahuan tentang arsitektur dan nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya turut terwariskan. Hal ini menjadi langkah penting dalam upaya pelestarian budaya lokal Sulawesi Tengah.
Proses pembangunan yang diiringi rasa bangga ini menunjukkan bahwa tradisi dan modernitas dapat berjalan beriringan. Rumah Tinggi berdiri kokoh bukan hanya karena struktur kayunya, tetapi juga karena kekuatan sosial dan budaya yang menyangganya.