Saham BYAN dan Deretan Emiten Terafiliasi Haji Isam Anjlok Berjemaah, Investor Diingatkan soal Risiko Rumor

Penulis: Nanda Firmansyah  •  Rabu, 19 Agustus 2026 | 13:20:31 WIB
Saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) dan sejumlah emiten terafiliasi Haji Isam mengalami penurunan tajam setelah perusahaan membantah adanya rencana pengambilalihan saham.

SULAWESI TENGAH — Koreksi tajam ini terjadi sehari setelah PT Bayan Resources Tbk secara resmi menyatakan tidak mengetahui adanya rencana pengambilalihan 62,2% saham oleh Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam. Padahal, saham BYAN sempat melonjak dua hari beruntun dipicu rumor pertemuan bisnis antara Low Tuck Kwong dan Norman Joesoef di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Sekretaris Perusahaan BYAN, Jenny Quantero, menegaskan bahwa pemegang saham pengendali hanya menyampaikan bahwa Haji Isam, sebagai investor, dapat saja mempertimbangkan berbagai peluang investasi dari waktu ke waktu. Namun, tidak ada pembahasan konkret mengenai pengambilalihan saham sebagaimana informasi yang beredar luas di pasar.

Emiten Terafiliasi Haji Isam Ikut Terpapar

Tekanan jual tidak hanya menimpa BYAN. Saham-saham yang selama ini dikaitkan dengan grup usaha Haji Isam juga mengalami koreksi signifikan pada hari yang sama. PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) tercatat ambles 14,74% ke level Rp 2.140, sementara PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) jatuh 14,17% ke posisi Rp 7.875.

Tak berhenti di situ, PT Dana Brata Luhur Tbk (TEBE) juga terpangkas 14,87% menjadi Rp 1.460 dan PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST) yang mengelola gerai KFC melemah 14,72% ke harga Rp 452. Penurunan yang hampir seragam ini menunjukkan pola aksi jual yang menyapu seluruh emiten yang masuk dalam lingkaran sentimen pasar.

Spekulasi Versus Fundamental

Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, menilai anjloknya saham-saham tersebut merupakan bentuk normalisasi ekspektasi pasar. Investor yang sebelumnya masuk karena sentimen spekulatif cenderung melakukan profit taking setelah rumor tidak mendapatkan konfirmasi resmi dari perusahaan.

"Untuk investor, sebaiknya tidak menjadikan rumor atau nama besar tertentu sebagai dasar utama keputusan investasi," kata Elandry kepada Katadata.co.id pada Rabu (19/8). Ia menambahkan bahwa tekanan jual ikut merambat ke saham-saham lain yang dianggap memiliki keterkaitan, meskipun secara fundamental tidak ada perubahan signifikan.

Pelajaran bagi Investor Ritel

Elandry menekankan pentingnya melihat keterbukaan informasi, fundamental, valuasi, dan likuiditas saham sebelum bertransaksi. Ia mengingatkan bahwa ketika kenaikan harga berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan perubahan fundamental perusahaan, risk appetite investor perlu dijaga lebih ketat agar tidak terjebak dalam aksi spekulatif atau praktik goreng-menggoreng saham.

Fenomena ini menjadi pelajaran berharga di tengah maraknya pergerakan saham berbasis isu di bursa. Investor ritel disarankan untuk selalu memverifikasi kebenaran rumor melalui keterbukaan informasi resmi perusahaan sebelum mengambil posisi, karena harga yang terbentuk dari sentimen semata berpotensi kembali jatuh dengan cepat ketika sentimen tersebut memudar.

Reporter: Nanda Firmansyah
Sumber: katadata.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top