SIGI — Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid menilai pertanian organik di Desa Walatana, Kecamatan Dolo Selatan, Kabupaten Sigi, memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi model pertanian modern. Pengalaman yang ia bawa dari Sichuan, China, menjadi bekal untuk mendorong transformasi sektor ini di daerah.
Menurut Anwar, pengembangan pertanian tidak boleh berhenti pada keberhasilan panen. Ia menekankan pentingnya hilirisasi dan penguatan tata niaga agar hasil bumi memberi dampak langsung pada kesejahteraan petani.
Kunjungan Anwar ke Sichuan memberinya wawasan tentang efisiensi rantai pasok dan pengelolaan lahan yang mampu meningkatkan margin keuntungan petani. Metode tersebut dinilai relevan untuk diterapkan di Sulteng yang memiliki lahan subur.
Desa Walatana dipilih sebagai titik awal karena dinilai memiliki ekosistem pertanian organik yang sudah berjalan. Ke depan, model dari desa ini akan direplikasi di daerah lain di Sulawesi Tengah.
Kegiatan ini dirangkaikan dengan panen raya padi organik dan sarasehan bertajuk "Petani untuk Negeri". Acara tersebut menjadi ajang diskusi antara pemerintah daerah dan petani mengenai arah kebijakan pertanian ke depan.
Anwar menegaskan bahwa pemerintahannya tidak hanya fokus pada target produksi. Ia mendorong adanya inovasi dalam pengolahan dan pemasaran agar harga jual komoditas pertanian lebih stabil dan menguntungkan.
Transformasi pertanian di Walatana dirancang untuk memutus rantai tengkulak yang selama ini kerap merugikan petani. Dengan sistem modern, petani diharapkan bisa mengakses pasar lebih luas dan mendapatkan harga yang lebih baik.
Pemprov Sulteng berkomitmen mendampingi petani dalam proses transisi ini. Pendampingan teknis dan akses permodalan menjadi fokus utama agar program berjalan sesuai target.