SULAWESI TENGAH — Pemasukan fantastis itu disampaikan Infantino kepada seluruh asosiasi anggota pada Sabtu (19/7/2026) di New Jersey, seperti dilaporkan The Guardian. Gelaran yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko ini mencatatkan lonjakan pendapatan signifikan dari sektor penjualan tiket dan paket hospitality.
FIFA meraup untung besar dari skema pasar penjualan kembali tiket. Federasi memperoleh komisi 15 persen dari pembeli dan 15 persen dari penjual di setiap transaksi sekunder selama turnamen berlangsung.
Di luar itu, paket hospitality menjadi mesin uang utama. Permintaan akses premium di stadion-stadion tuan rumah melonjak drastis, terutama dari kalangan korporasi dan penonton internasional. Menjelang final antara Spanyol dan Argentina di Stadion MetLife, Senin (20/7/2026) dini hari WIB, FIFA masih menawarkan paket Trophy Lounge seharga US$ 34.500 per orang—setara Rp 619 juta.
Pencapaian finansial ini beriringan dengan sorotan tajam pada Infantino. Kontroversi mencuat saat FIFA mencabut kartu merah penyerang Timnas Amerika Serikat, Folarin Balogun, pada laga 16 besar kontra Paraguay.
Keputusan itu memicu kritik karena dianggap mengikuti tekanan Presiden AS Donald Trump. FIFA membantah melalui pernyataan resmi, menegaskan pencabutan hukuman diputuskan secara independen oleh Komite Disiplin. Sejumlah asosiasi sepak bola Eropa dilaporkan masih mempertanyakan langkah tersebut.
Terlepas dari polemik, lebih dari 200 asosiasi dikabarkan telah menyatakan dukungan kepada Infantino untuk kembali maju dalam pemilihan Presiden FIFA pada Maret 2027. Rekor pendapatan ini diyakini memperkuat basis dukungannya di kalangan anggota.
Namun, belum ada keputusan resmi mengenai besaran distribusi dana yang akan diterima masing-masing asosiasi. Kesuksesan finansial Piala Dunia 2026 juga membuka peluang Amerika Serikat kembali mengajukan diri sebagai tuan rumah pada edisi 2038 yang masih terbuka untuk proses pencalonan.