MOROWALI — Kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) terus memperkuat posisinya sebagai penggerak utama perekonomian Sulawesi Tengah. Data terbaru Departemen HR PT IMIP per Juli 2026 mencatat jumlah tenaga kerja aktif mencapai 97.427 orang, terdiri dari 89.335 karyawan laki-laki dan 8.092 karyawan perempuan. Angka ini belum termasuk sekitar 20.000 tenaga kerja alih daya yang tersebar di berbagai perusahaan kontraktor dan jasa pendukung operasional kawasan.
Direktur Komunikasi PT IMIP, Dr Emilia Bassar, menyebut pertumbuhan tenaga kerja di kawasan industri tersebut menunjukkan tren peningkatan yang konsisten. “Dari Juni 2025 ke Juli 2026, serapan tenaga kerja naik 13,53 persen,” ujarnya dalam pernyataan resmi, Sabtu (18/7/2026). Sebagai perbandingan, pada tahun 2023 jumlah karyawan di IMIP masih 74.350 orang, lalu naik menjadi 83.000 orang di 2024, dan 89.849 orang pada akhir Januari 2026.
Pertumbuhan ini sejalan dengan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat jumlah angkatan kerja formal di Sulawesi Tengah meningkat tiga tahun berturut-turut. Dari 477,2 ribu orang pada Agustus 2023, naik menjadi 500,1 ribu pada 2024, dan kembali meningkat menjadi 525,8 ribu orang pada Agustus 2025. “Keberadaan industri pengolahan menjadi faktor penting dalam pergeseran pola ketenagakerjaan di Sulteng, yang dahulu lebih banyak ditopang sektor pertanian dan perikanan,” kata Emilia.
Kontribusi tenaga kerja IMIP terhadap total penduduk bekerja dengan status buruh atau karyawan di Sulteng terus bertambah. Pada 2023 kontribusinya sekitar 1,23 persen, naik menjadi 1,74 persen pada 2024, dan 1,3 persen pada 2025. Dokumen BPS Indikator Ketenagakerjaan Provinsi Sulawesi Tengah 2025 menempatkan kawasan IMIP sebagai salah satu kontributor utama pertumbuhan lapangan kerja formal di provinsi tersebut.
Penelitian dari tim Survey and Research Departemen Secretariat and General Affair (SGA) PT IMIP menunjukkan aktivitas ekonomi di lingkar kawasan industri juga menggeliat. Jumlah UMKM di Kecamatan Bahodopi meningkat dari 4.697 unit usaha pada 2021 menjadi 7.643 unit pada Maret 2025. Meski sempat turun menjadi 7.190 unit pada April 2026, jumlah tenaga kerja yang terserap justru naik menjadi 17.080 orang. “Unit usaha yang bertahan justru tumbuh dan banyak menyerap SDM untuk bekerja,” jelas Emilia.
Sektor industri pengolahan di kawasan IMIP tercatat sebagai lapangan usaha dengan pertumbuhan tertinggi di Sulawesi Tengah, yakni 15,09 persen pada triwulan I 2026. Pada periode yang sama, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sulteng atas dasar harga berlaku mencapai Rp110,27 triliun. Sementara itu, PDRB per kapita Kabupaten Morowali menembus Rp1,3 miliar pada 2024, menandakan dampak langsung industri terhadap kesejahteraan daerah.
PT IMIP merespons pembangunan industri dan pengembangan sumber daya manusia sebagai dua hal yang saling berkaitan. “Penguatan kualitas SDM menjadi fokus utama perusahaan demi menjaga keberlanjutan pertumbuhan industri,” ujar Emilia. Hal ini diwujudkan melalui program pelatihan, sertifikasi kompetensi, magang industri, hingga kerja sama dengan lembaga pendidikan vokasi dan perguruan tinggi. Kemitraan saat ini dijalin dengan Politeknik Industri Logam Morowali (PILM), Akademi Teknik Industri Makassar (ATI Makassar), Fakultas Vokasi Universitas Hasanuddin bidang metalurgi, serta Program D4 Teknologi Rekayasa Instalasi Listrik dan Teknologi Rekayasa Instalasi Mesin Universitas Tadulako. Kerja sama ini mencakup pemberian beasiswa, kesempatan magang, dan program Praktisi Mengajar yang mempertemukan mahasiswa dengan profesional industri secara langsung. “Melalui langkah ini, IMIP berkomitmen menghadirkan manfaat sosial ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat Sulawesi Tengah dan Indonesia secara lebih luas,” pungkas Emilia.