PALU — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menggandeng pelajar di Sulawesi Tengah sebagai garda terdepan mitigasi bencana lewat program BMKG go to school. Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas I Palu Djati Cipto Kuncoro mengatakan, sasaran program ini adalah siswa SD, SMP, dan SMA di Kota Palu dan Kabupaten Sigi.
“Selain penguatan mitigasi, program edukasi dari sekolah ke sekolah bertujuan menjadikan siswa-siswi sebagai agen perubahan untuk menyampaikan kepada teman atau keluarganya supaya mereka lebih siap menghadapi potensi bencana,” kata Djati di Palu, Kamis.
Sulawesi Tengah merupakan salah satu daerah rawan gempa bumi di Indonesia. Djati menegaskan, edukasi mitigasi perlu dimasifkan agar masyarakat, termasuk anak-anak, lebih siap menghadapi situasi darurat.
“Pemahaman tentang mitigasi tidak hanya diberikan kepada orang dewasa, anak-anak atau usia dini juga harus diberikan pemahaman yang sama dengan metode pembelajaran berbeda,” tuturnya.
BMKG juga merencanakan satu kali kegiatan sekolah lapang gempa dan tsunami di Kabupaten Sigi pada tahun 2026. Kabupaten ini baru-baru ini diguncang gempa magnitudo 6,7 yang mengingatkan kembali pada kerentanan wilayah tersebut.
Dalam beberapa tahun terakhir, BMKG telah melaksanakan enam kali program sekolah lapang di Sulawesi Tengah. Program itu menjadi bagian dari upaya membangun budaya sadar dan tanggap bencana di daerah rawan gempa dan tsunami.
Djati berharap pihak-pihak lain juga turut melaksanakan edukasi kebencanaan melalui sosialisasi maupun lokakarya. Menurutnya, budaya sadar bencana harus tertanam dalam diri masing-masing orang, bukan hanya menjadi tanggung jawab BMKG semata.
BMKG menegaskan memiliki tanggung jawab memberikan pemahaman kepada masyarakat. Namun, kolaborasi lintas sektor dinilai penting untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana yang mengancam kapan saja.