MOROWALI — Sebanyak 4.100 meter jalan baru akan dibuka di Kecamatan Bungku Selatan sebagai bagian dari program TMMD ke-129. Selain itu, pemerintah juga membangun rabat beton sepanjang 707 meter, tiga unit MCK, dan lima titik penampungan air bersih untuk warga setempat.
Program ini tidak hanya membuka akses jalan. Sebanyak lima unit rumah tidak layak huni (RTLH) akan direhabilitasi. Satu masjid juga masuk dalam daftar renovasi, ditambah pembersihan lingkungan secara gotong royong.
Seribu pohon mangrove ditanam di pesisir untuk mencegah abrasi. Sebuah lapangan sepak bola juga dibangun sebagai ruang publik bagi pemuda desa.
Di sektor ketahanan pangan, warga didorong membudidayakan kelapa. Bantuan sosial juga digelontorkan: 100 paket sembako, 100 paket penanganan stunting, serta bantuan khusus untuk lima penyandang disabilitas.
Komandan Kodim 1311/Morowali, Letkol Inf. Baja Imanuel Sirait, menegaskan TMMD bukan proyek fisik semata. “TMMD ke-129 ini bertujuan membantu pemerintah mengakselerasi pembangunan di daerah melalui kegiatan fisik dan nonfisik. Sekaligus mewujudkan rakyat juang yang tangguh serta meningkatkan kemanunggalan TNI dan rakyat,” ujar Baja pada Rabu (15/7/2026).
Rangkaian kegiatan nonfisik meliputi penyuluhan mitigasi bencana alam, stunting, dan kesehatan. Warga juga mendapat sosialisasi bela negara, bahaya narkoba, serta penyuluhan Keluarga Berencana (KB). Pelayanan pengobatan gratis turut disediakan di lokasi.
Bungku Selatan merupakan salah satu kecamatan di Morowali yang akses infrastrukturnya masih terbatas. Dengan dibukanya jalan sepanjang 4,1 km, mobilitas warga menuju pusat kecamatan dan kabupaten diharapkan lebih cepat. Rabat beton di permukiman padat juga mengurangi risiko genangan saat hujan.
Program ketahanan pangan berupa budidaya kelapa dipilih karena potensi lahan pesisir yang cocok. Sementara itu, penanaman mangrove menjadi langkah adaptasi terhadap perubahan iklim yang mulai dirasakan warga pesisir.
Seluruh sasaran fisik dikerjakan bersama antara personel TNI, pemerintah daerah, dan warga setempat. Model pengerjaan gotong royong ini, menurut Dansatgas TMMD, mempercepat penyelesaian proyek sekaligus memperkuat ikatan sosial.
Bantuan sosial yang menyasar 100 paket stunting menunjukkan perhatian pada masalah gizi anak di daerah terpencil. Angka stunting di Sulawesi Tengah masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah, dan intervensi langsung seperti ini diharapkan menekan prevalensinya.