MOROWALI — Aktivitas alat berat dan truk pengangkut material galian C di Jalan Wirabuana, Kelurahan Lamberea, kini menjadi momok bagi warga dan pelajar setempat. Getaran tanah, debu, dan kebisingan dari lokasi tambang yang berjarak sangat dekat dengan SDN 14 Bungku disebut mengganggu proses belajar mengajar setiap hari.
Selain mengancam kenyamanan sekolah, lokasi tambang tersebut juga berada tepat di jalur evakuasi utama untuk tujuh kelurahan di Kecamatan Bungku Tengah. Warga khawatir akses darurat akan terputus jika sewaktu-waktu terjadi bencana alam.
Dalam surat pengaduan yang ditandatangani oleh 86 warga, masyarakat mendesak Kapolres Morowali melakukan penyelidikan lapangan segera. Mereka meminta seluruh aktivitas penggalian dihentikan total selama proses investigasi berlangsung.
Jika terbukti melanggar ketentuan dan membahayakan keselamatan umum, warga mendesak lokasi tambang ditutup permanen. Mereka juga meminta polisi berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas PTSP untuk menelusuri legalitas izin serta dokumen lingkungan pengelola tambang.
“Kami menilai aktivitas ini seolah tidak tersentuh hukum. Padahal, dampaknya semakin nyata dan dirasakan langsung oleh masyarakat setiap hari,” bunyi petikan dalam surat pengaduan yang diterima Polres Morowali.
Perwakilan warga menegaskan bahwa aksi ini bukan bentuk penolakan terhadap investasi. Sebaliknya, mereka mendukung kegiatan ekonomi yang legal dan taat aturan. Namun, ketika aktivitas tambang sudah mengancam jiwa peserta didik dan merusak fasilitas umum, kehadiran negara melalui penegakan hukum yang profesional dinilai mutlak diperlukan.
“Kami berharap Polres Morowali bertindak objektif dan transparan tanpa pandang bulu. Keselamatan jiwa peserta didik dan warga harus menjadi prioritas utama,” tegas salah satu perwakilan warga dalam pernyataannya.
Surat pengaduan tersebut turut ditembuskan kepada Bupati Morowali, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas PUPR, dan Dinas PTSP Kabupaten Morowali. Warga berharap persoalan ini mendapat atensi lintas instansi agar tidak berlarut-larut.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak pengelola tambang maupun Polres Morowali terkait tuntutan warga. Tim dari Polres dijadwalkan akan turun ke lokasi dalam waktu dekat untuk melakukan pemeriksaan awal.