SULAWESI TENGAH — Berdasarkan data perdagangan, mata uang Garuda terkoreksi 0,25 persen dibandingkan penutupan sebelumnya. Level ini mendekati batas bawah proyeksi analis yang memperkirakan rentang pergerakan rupiah hari ini antara Rp17.900 hingga Rp18.050 per dolar AS.
Pelemahan rupiah tidak berdiri sendiri. Di kawasan Asia, won Korea Selatan menjadi yang terlemah dengan depresiasi 0,38 persen, disusul dolar Singapura yang turun 0,05 persen, serta yen Jepang dan yuan China yang masing-masing melemah tipis. Sebaliknya, ringgit Malaysia justru berhasil menguat 0,31 persen, menjadi satu-satunya mata uang Asia yang mencatat apresiasi signifikan di tengah tekanan dolar AS.
Situasi serupa terjadi di kelompok mata uang utama negara maju. Dolar Australia terdepresiasi paling dalam yakni 0,29 persen, diikuti euro yang turun 0,10 persen. Hanya dolar Kanada yang mampu bertahan dengan penguatan tipis 0,03 persen terhadap greenback.
Analis mata uang DOO Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan tekanan terhadap rupiah berasal dari dua faktor eksternal utama. Pertama, data Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat yang menunjukkan inflasi inti naik ke level tertinggi sejak Oktober 2023. Kedua, pernyataan bernada hawkish dari sejumlah pejabat Federal Reserve yang kembali membuka peluang kenaikan suku bunga acuan.
"Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS setelah data inflasi AS PCE yang menunjukkan kenaikan pada inflasi inti mencapai tingkat tertinggi sejak Oktober 2023. Pernyataan hawkish pejabat The Fed juga meningkatkan prospek kenaikan suku bunga oleh bank sentral AS," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com.
Bagi importir dan perusahaan yang memiliki utang dalam denominasi dolar AS, pelemahan rupiah ini berarti beban biaya yang semakin membengkak. Sementara bagi eksportir, posisi ini justru menguntungkan karena nilai penerimaan dalam dolar AS menjadi lebih tinggi saat dikonversi ke rupiah.
Dari sisi pasar modal, pelemahan rupiah yang berkelanjutan biasanya menjadi sentimen negatif bagi IHSG, terutama bagi saham-saham sektor konsumer dan properti yang sensitif terhadap impor bahan baku. Investor disarankan mencermati pergerakan rupiah di kisaran psikologis Rp18.000 per dolar AS, level yang berpotensi memicu intervensi Bank Indonesia jika tekanan berlanjut.
Investasi mengandung risiko.