Di atas kertas, DisplayPort memiliki keunggulan teknis yang jelas. Standar koneksi ini mendukung bandwidth lebih tinggi, refresh rate lebih besar, dan kompatibilitas multi-monitor yang lebih baik dibanding HDMI. Namun, saat Anda berjalan di gerai elektronik di Jakarta atau Surabaya, nyaris semua smart TV yang dipajang hanya menyediakan port HDMI.
Apa yang membuat HDMI tetap menjadi raja di industri televisi?
Salah satu alasan utama adalah biaya. HDMI menerapkan sistem royalti yang lebih sederhana dan murah bagi produsen. Setiap pabrikan TV hanya perlu membayar biaya lisensi tahunan yang relatif rendah — sekitar 10.000 dolar AS per tahun — untuk memproduksi jutaan unit.
Sebaliknya, DisplayPort meskipun bebas royalti untuk penggunaan tertentu, justru membutuhkan komponen dan sertifikasi yang lebih mahal di sisi manufaktur. Bagi produsen TV yang menjual dalam volume puluhan juta unit per tahun, selisih biaya produksi per unit menjadi krusial.
“HDMI sudah menjadi standar de facto di industri TV sejak 2002. Menggantinya berarti merombak seluruh rantai pasok,” ujar seorang analis industri semikonduktor yang enggan disebutkan namanya.
HDMI bukan sekadar port — ia adalah ekosistem. Ratusan juta perangkat konsumen seperti PlayStation, Xbox, Apple TV, soundbar, dan dekoder digital sudah mengadopsi HDMI. Di Indonesia, hampir semua layanan TV kabel dan streaming lokal menggunakan HDMI sebagai standar koneksi.
Produsen TV tidak punya insentif untuk menambahkan DisplayPort jika konsumen tidak punya perangkat yang bisa memanfaatkannya. Menambahkan port yang tidak terpakai hanya akan menaikkan biaya produksi tanpa nilai tambah bagi pembeli.
DisplayPort justru menemukan rumahnya di monitor komputer dan laptop. Gamer dan desainer grafis yang membutuhkan refresh rate tinggi dan resolusi 4K hingga 8K di atas 60Hz sangat diuntungkan oleh DisplayPort. Standar ini juga mendukung daisy-chaining, yaitu menyambungkan beberapa monitor dalam satu kabel — fitur yang tidak diperlukan pengguna TV biasa.
Di sisi lain, HDMI terus berevolusi. HDMI 2.1 yang hadir pada 2017 sudah mendukung resolusi 8K pada 60Hz dan 4K pada 120Hz, cukup untuk konsol generasi terbaru dan konten streaming premium. Dengan kata lain, celah keunggulan DisplayPort semakin menyempit.
Beberapa TV premium dari LG dan Samsung sudah mulai menyertakan port DisplayPort di model tertentu, terutama untuk segmen gaming. Namun, ini masih pengecualian, bukan aturan. Untuk pasar massal — termasuk Indonesia — HDMI akan tetap menjadi standar untuk tahun-tahun mendatang.
Bagi konsumen Indonesia yang ingin memanfaatkan keunggulan DisplayPort, solusi paling praktis adalah menggunakan monitor PC untuk gaming atau pekerjaan grafis, dan tetap mengandalkan TV dengan HDMI untuk hiburan sehari-hari.