SULAWESI TENGAH — Pasar modal Indonesia mencatatkan hari bersejarah setelah IHSG melesat hijau dan menembus level 6.000 dalam perdagangan hari ini. Momentum ini tidak lepas dari peran saham-saham pelat merah yang mencatatkan akumulasi beli besar-besaran sejak awal sesi, baik dari investor domestik maupun asing.
Dony Oskaria mengungkapkan, sektor pertambangan menjadi primadona dengan kenaikan hingga 7 persen. Saham-saham perbankan himbara seperti BRI dan Mandiri, serta emiten telekomunikasi Telkom, turut menjadi penopang utama indeks.
“Ini bukti nyata bahwa investor global maupun domestik menaruh kepercayaan penuh pada ketangguhan fundamental ekonomi Indonesia, khususnya pada portofolio BUMN kita,” ujar Dony dalam keterangan resminya, Jumat.
Kebangkitan IHSG dan rupiah tidak terjadi begitu saja. Pada 9 Juni 2026, Bank Indonesia mengambil langkah taktis dengan menurunkan suku bunga acuan menjadi 5,50 persen. Keputusan ini langsung memulihkan kepercayaan pelaku pasar yang sempat wait and see.
Menurut Dony, sinergi cepat antara pemerintah dan otoritas moneter menjadi kunci stabilitas saat ini. “Momentum positif ini menandakan bahwa kebijakan yang sedang dijalankan berada di jalur yang tepat. Iklim investasi yang stabil adalah kunci menarik kemitraan strategis bernilai tinggi,” tegasnya.
Bagi masyarakat luas, penguatan pasar modal dan nilai tukar bukan sekadar angka di layar monitor. Dony menjelaskan, stabilitas ini memastikan biaya kebutuhan pokok tetap terkendali. Aliran investasi yang masuk ke sektor riil akan bermuara pada penciptaan lapangan kerja baru.
“Hilangkan keraguan, mari bersama-sama kita jaga optimisme. Stabilitas ini akan berdampak langsung pada ekonomi riil,” kata Dony.
Ke depan, BP BUMN bersama Danantara berkomitmen mengawal performa seluruh portofolio perusahaan negara. Targetnya, BUMN tetap adaptif menghadapi dinamika global dan konsisten memberikan nilai tambah bagi pemegang saham serta kesejahteraan rakyat.
Dominasi saham BUMN dalam mendorong laju IHSG disebut sebagai refleksi nyata dari kualitas fundamental bisnis yang sehat berkat transformasi berkelanjutan. Jika tren ini bertahan, bukan tidak mungkin IHSG akan menguji level resistensi berikutnya dalam waktu dekat.