Hilirisasi Perikanan di Sulawesi Tengah: Mengubah Nasib Bahan Mentah Jadi Investasi dan Lapangan Kerja Baru

Penulis: Kurniadi Setiawan  •  Selasa, 02 Juni 2026 | 15:29:42 WIB
Pabrik pengolahan ikan di Sulawesi Tengah mulai menyerap tenaga kerja lokal secara signifikan.

PALU — Hilirisasi perikanan di Sulawesi Tengah tidak lagi sekadar wacana. Pemerintah provinsi melihat pengolahan hasil laut sebagai jalan keluar dari ketergantungan pada ekspor bahan mentah yang nilai tambahnya justru dinikmati negara lain. Dampak dari kebijakan ini diproyeksikan langsung menyentuh sendi-sendi ekonomi masyarakat pesisir, dari nelayan hingga pekerja di pabrik pengolahan.

Mengapa Hilirisasi Mendesak Dilakukan?

Selama bertahun-tahun, Sulawesi Tengah kerap menjadi pemasok utama ikan dan produk laut mentah ke pasar nasional maupun internasional. Namun, tanpa proses pengolahan, nilai jual komoditas ini sangat rendah. “Manfaat hilirisasi tidak berhenti pada peningkatan pendapatan sektor perikanan,” ujar sumber di lingkungan pemprov. Aktivitas tersebut mendorong investasi, memperluas kesempatan kerja, dan menciptakan ekosistem industri yang lebih stabil.

Investasi Baru Mengalir, Lapangan Kerja Bermunculan

Dengan adanya pabrik pengolahan ikan, udang, dan rumput laut, kebutuhan tenaga kerja lokal meningkat signifikan. Tak hanya nelayan, lulusan sekolah menengah kejuruan di bidang perikanan kini memiliki peluang kerja di kampung halaman. Pemerintah mencatat, setiap satu pabrik pengolahan skala menengah bisa menyerap hingga ratusan pekerja dari wilayah sekitar.

Investasi yang masuk pun tidak hanya dari dalam negeri. Beberapa perusahaan asing mulai melirik potensi hilirisasi di kawasan ini, terutama untuk produk olahan bernilai tinggi seperti fillet ikan beku, surimi, dan kosmetik berbasis rumput laut. Hal ini memperkuat posisi Sulawesi Tengah sebagai pusat industri perikanan terpadu di Indonesia Timur.

Apa yang Berubah bagi Nelayan?

Dulu, nelayan hanya menjual tangkapan ke tengkulak dengan harga murah. Kini, dengan adanya pabrik pengolahan di dekat pelabuhan, mereka bisa menjual langsung dengan harga lebih stabil. “Kami tidak lagi khawatir ikan tidak laku. Pabrik selalu butuh pasokan,” kata seorang nelayan di Donggala. Perubahan ini juga mendorong perbaikan infrastruktur pendingin dan logistik di pelabuhan-pelabuhan kecil.

Langkah Selanjutnya: Perluasan Pasar dan Inovasi Produk

Pemerintah provinsi tidak berhenti pada pembangunan pabrik. Ke depan, fokus akan diarahkan pada diversifikasi produk olahan dan penetrasi pasar ekspor. Produk seperti abon ikan, nugget, dan kerupuk rumput laut mulai dipasarkan ke luar Sulawesi. Selain itu, pelatihan bagi UMKM perikanan terus digencarkan agar kualitas produk lokal mampu bersaing di pasar modern.

Hilirisasi perikanan di Sulawesi Tengah menjadi contoh bagaimana sebuah daerah bisa keluar dari perangkap bahan mentah. Dengan investasi yang terus mengalir dan lapangan kerja yang semakin luas, transformasi ekonomi ini bukan lagi sekadar rencana di atas kertas.

Reporter: Kurniadi Setiawan
Sumber: radarpalu.jawapos.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top