MOROWALI — Aktivitas ekonomi di lingkar industri nikel Kabupaten Morowali menunjukkan angka yang fantastis. Riset terbaru dari tim Research and Support Departemen Secretariat General Affair PT IMIP mengungkapkan bahwa total belanja karyawan di kawasan tersebut mencapai Rp 492 miliar per bulan atau menyentuh Rp 5,9 triliun dalam setahun.
Besarnya perputaran uang ini didorong oleh dominasi tenaga kerja usia produktif antara 26 hingga 35 tahun yang bermukim di Kecamatan Bahodopi. Kelompok usia muda ini memiliki pola konsumsi yang tinggi dan stabil untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari di sekitar area industri.
Menariknya, para pekerja di kawasan IMIP cenderung lebih memilih berbelanja di warung atau kios tradisional milik warga setempat. Data survei menunjukkan sebanyak 57 persen karyawan lebih sering mendatangi warung tetangga dibandingkan berbelanja di toko ritel modern.
Kedekatan lokasi serta adanya ikatan sosial yang kuat dengan penjual menjadi alasan utama para karyawan memilih UMKM lokal. Fenomena ini menjadi angin segar bagi 7.643 unit UMKM yang beroperasi di Bahodopi, di mana 78 persen di antaranya merupakan kategori usaha mikro.
Sektor kuliner menjadi primadona utama dalam ekosistem ekonomi ini. Sebanyak 98,4 persen responden mengaku mengalokasikan anggaran terbesar mereka untuk urusan makan dan minum. Rata-rata, satu orang karyawan menghabiskan sekitar Rp 2,19 juta setiap bulan hanya untuk kebutuhan pangan.
Selain urusan perut, sektor properti di Bahodopi turut mengalami pertumbuhan pesat seiring bertambahnya jumlah pekerja. Tercatat sebanyak 82,6 persen karyawan memilih tinggal di rumah kost atau kontrakan di sekitar wilayah operasional perusahaan.
Rata-rata biaya sewa hunian di wilayah ini mencapai Rp 1,26 juta per bulan. Angka ini menunjukkan bahwa sektor jasa penyediaan akomodasi menjadi mesin uang kedua bagi masyarakat lokal setelah usaha warung makan dan kios sembako.
Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulawesi Tengah melihat fenomena ini sebagai peluang besar untuk memperkuat struktur ekonomi daerah. BI menilai perlu ada penguatan pada sektor pendukung seperti logistik, perdagangan, dan konstruksi agar manfaat ekonomi dari industri nikel bisa terdistribusi lebih luas.
“Langkah ini bertujuan membantu memperluas distribusi manfaat ekonomi dari aktivitas industri, sekaligus menciptakan lebih banyak kesempatan kerja bagi masyarakat lokal,” tulis BI Sulteng dalam keterangan resminya.
Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Sulteng, Andi Irman, S.STP, MM, menyatakan bahwa kebijakan hilirisasi terbukti memberikan nilai tambah yang nyata bagi komoditas daerah. Ia memastikan pemerintah provinsi akan terus menjaga iklim investasi agar tetap kondusif bagi pelaku usaha.
Pemerintah berkomitmen agar dinamika ekonomi di Morowali tetap inklusif, sehingga kesejahteraan tidak hanya dirasakan oleh perusahaan besar, tetapi juga menyentuh pedagang kecil di pasar-pasar tradisional. Struktur demografi pekerja yang didominasi anak muda menjadi modal penting bagi keberlanjutan daya beli di masa depan.