MOROWALI — Limbah plastik yang kerap menjadi persoalan lingkungan di wilayah lingkar industri Bahodopi kini berubah menjadi sumber energi alternatif bernilai ekonomi. Melalui tangan kreatif Serda Muh. Saleng, seorang Babinsa dari Koramil 1311-09/Bahodopi, tumpukan sampah tersebut disuling menjadi bahan bakar jenis Solar B-40.
Aksi lingkungan ini dilakukan di Desa Siumbatu, Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah. Dalam menjalankan inovasi tersebut, Serda Muh. Saleng menggandeng seorang warga setempat bernama Darmin untuk mengoperasikan alat penyulingan sederhana.
Teknologi yang digunakan mengandalkan tungku rakitan untuk memproses sampah plastik melalui sistem pemanasan dan penyulingan. Meski menggunakan perangkat sederhana, hasil produksinya tergolong stabil dan sudah berlangsung selama lima bulan terakhir.
Kapasitas produksi dari satu unit tungku yang ada saat ini mampu menghasilkan sekitar 175 liter Solar B-40 setiap harinya. Bahan bakar hasil olahan limbah tersebut langsung diserap oleh pasar lokal karena harganya yang kompetitif dibandingkan bahan bakar konvensional.
Masyarakat di sekitar Desa Siumbatu dapat memperoleh Solar B-40 ini dengan harga Rp10.000 per liter. Kehadiran produk ini menjadi solusi alternatif bagi warga, terutama untuk kebutuhan mesin-mesin yang memerlukan asupan bahan bakar solar di tengah aktivitas ekonomi Morowali yang tinggi.
“Jika jumlah tungku ditambah, tentu hasil produksi akan semakin meningkat dan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat lebih luas,” kata Serda Muh. Saleng.
Melihat tingginya potensi serapan pasar dan ketersediaan bahan baku sampah plastik yang melimpah, rencana pengembangan kapasitas produksi telah disiapkan. Serda Muh. Saleng menargetkan penambahan jumlah tungku penyulingan dalam waktu dekat.
Rencananya, unit produksi akan dikembangkan hingga memiliki enam tungku penyulingan. Penambahan infrastruktur ini diharapkan mampu mendongkrak volume Solar B-40 secara signifikan guna menjangkau lebih banyak konsumen di tingkat kecamatan maupun kabupaten.
Selain fokus pada bahan bakar cair, pengembangan riset juga menyasar pada produk turunan energi lainnya. Pihak Babinsa berencana melakukan pengolahan limbah yang hasilnya dapat dimanfaatkan untuk pengisian tabung gas elpiji sebagai solusi energi rumah tangga.
Inovasi di Bahodopi ini tidak hanya berorientasi pada keuntungan ekonomi semata, namun juga menjadi langkah taktis dalam menekan volume sampah plastik. Pengolahan ini membantu pemerintah daerah dalam meminimalisir penumpukan limbah yang sulit terurai di lingkungan permukiman dan pesisir.
Langkah Serda Muh. Saleng membuktikan bahwa kolaborasi antara aparat kewilayahan dan warga dapat menghasilkan solusi tepat guna. Transformasi dari limbah menjadi rupiah ini diharapkan menjadi pemantik bagi desa-desa lain di Sulawesi Tengah untuk mengelola sampah secara produktif.
Hingga saat ini, kegiatan penyulingan di Desa Siumbatu terus berjalan secara konsisten. Keberhasilan ini sekaligus menunjukkan peran Babinsa dalam mendukung ketahanan energi di tingkat desa melalui pemanfaatan sumber daya yang ada di sekitar lingkungan tugasnya.