Samsung Galaxy mulai kehilangan taji dalam inovasi aplikasi bawaan karena fokus perusahaan beralih sepenuhnya ke pengembangan Galaxy AI. Padahal, fitur produktivitas lokal tanpa ketergantungan cloud menjadi alasan utama konsumen setia memilih perangkat flagship asal Korea Selatan ini. Stagnasi pada aplikasi seperti Notes dan Gallery dikhawatirkan bakal menurunkan daya saing Samsung di pasar Android.
Samsung Galaxy telah lama menjadi standar emas bagi pengguna Android yang menginginkan kontrol penuh atas data mereka tanpa ketergantungan pada layanan cloud. Aplikasi bawaan seperti Samsung Gallery, My Files, dan Samsung Notes sering kali dianggap jauh lebih superior dibandingkan solusi milik Google. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, raksasa teknologi ini tampak mulai kehilangan arah dalam menyempurnakan aplikasi-aplikasi produktivitas tersebut.
Peluncuran perangkat terbaru seperti Galaxy Z Fold 7 menunjukkan pergeseran prioritas Samsung yang sangat drastis. Perusahaan kini lebih banyak menghabiskan waktu panggung untuk memamerkan kemampuan generatif AI daripada memperbaiki kekurangan pada aplikasi inti. Padahal, bagi banyak pengguna, kemampuan mengelola file secara lokal dan mengedit foto tanpa otomatisasi cloud adalah nilai jual utama.
Galaxy AI memang menawarkan implementasi kecerdasan buatan terbaik di smartphone saat ini. Fitur seperti transkripsi suara ke teks dan penerjemahan langsung saat panggilan telepon memang sangat membantu. Masalahnya, fitur serupa kini sudah jamak ditemukan pada aplikasi pihak ketiga maupun perangkat kompetitor. Samsung tidak lagi menawarkan sesuatu yang benar-benar eksklusif secara fungsional.
Samsung Notes merupakan salah satu aplikasi pencatat paling bertenaga di ekosistem Android, namun pengembangannya seolah berhenti di tempat. Pengguna masih belum bisa mengganti font secara individual tanpa mengubah font sistem di seluruh ponsel. Selain itu, fitur sederhana seperti penghitung kata (word count) pun masih absen hingga saat ini.
Hal yang sama terjadi pada Samsung Gallery. Meski aplikasi ini jauh lebih fleksibel daripada Google Photos dalam hal manajemen file offline, Samsung belum memberikan fitur esensial seperti pengubahan ukuran (resize) gambar ke dimensi piksel yang spesifik. Alih-alih memberikan kontrol kreatif yang lebih presisi, Samsung justru lebih tertarik mempromosikan fitur AI yang bisa memformat ulang paragraf menjadi poin-poin otomatis.
Di sektor perangkat lipat, Samsung mulai tertinggal dari kompetitor dalam hal optimalisasi perangkat lunak untuk layar besar. OnePlus Open, misalnya, memperkenalkan fitur multitasking Open Canvas yang jauh lebih intuitif untuk memaksimalkan produktivitas. Sementara itu, Samsung masih bertahan dengan cara lama yang belum mengalami perubahan signifikan sejak beberapa generasi lalu.
Potensi besar form factor layar lipat untuk membaca ebook atau komik juga belum digarap serius oleh Samsung melalui aplikasi asli. Pengguna terpaksa mencari aplikasi pihak ketiga seperti Moon+ Reader untuk mendapatkan pengalaman membaca yang optimal. Samsung seakan lupa bahwa kekuatan perangkat keras yang mumpuni, seperti Galaxy Z Fold 7 dengan RAM 12GB dan layar 8 inci yang cerah, harus didukung oleh perangkat lunak yang terus berevolusi.
Keputusan Samsung untuk mulai mempensiunkan Samsung Messages dan menggantinya dengan Google Messages juga menjadi sinyal kuat pudarnya identitas perangkat lunak mereka. Jika Samsung terus mengabaikan pembaruan fitur dasar demi mengejar tren AI yang generik, alasan konsumen untuk tetap bertahan di ekosistem Galaxy akan semakin menipis. Kualitas rancang bangun yang kokoh saja tidak akan cukup untuk membendung gempuran inovasi perangkat lunak dari para pesaing di masa depan.