Pencarian

Inflasi IHK September 2026 Naik ke 3,28%, Volatile Food Melesat 5,03%

Minggu, 04 Oktober 2026 • 14:18:31 WIB
Inflasi IHK September 2026 Naik ke 3,28%, Volatile Food Melesat 5,03%
Bank Indonesia mencatat inflasi IHK September 2026 naik ke 3,28% secara tahunan.

SULAWESI TENGAH — Bank Indonesia mencatat inflasi Indeks Harga Konsumen September 2026 naik ke 3,28% secara tahunan, dari 3,19% pada Agustus. Pangan bergejolak jadi pemicu utama setelah inflasi kelompok volatile food melesat ke 5,03% year-on-year. Angka ini masih di dalam sasaran BI 2,5 plus minus 1 persen.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso menyatakan lonjakan bulanan September 2026 sebesar 0,30% month-to-month, sedikit lebih tinggi dari 0,21% pada Agustus. Tekanan datang dari pergeseran pola konsumsi dan dinamika pasokan pangan di daerah.

Secara tahunan, posisi 3,28% masih berada di dalam kisaran sasaran otoritas moneter 2,5 plus minus 1 persen. BI menyebut capaian ini buah dari koordinasi pusat-daerah lewat TPIP dan TPID.

Pangan Bergejolak Jadi Sumber Tekanan Terbesar

Kelompok volatile food mencatat inflasi 1,46% mtm pada September, melompat dari 0,88% pada Agustus. Secara tahunan, komponen ini naik 5,03% yoy, jauh di atas posisi bulan sebelumnya 4,06% yoy.

Ramdan menyebut gangguan cuaca di sentra produksi sebagai pemicu utama. Lima komoditas penyumbang terbesar inflasi kelompok ini:

  • Cabai rawit
  • Cabai merah
  • Daging ayam ras
  • Beras
  • Telur ayam ras

Penurunan hasil panen di sejumlah daerah akibat cuaca ekstrem serta lonjakan biaya input produksi di tingkat petani memperkuat tekanan harga. BI memprakirakan inflasi volatile food tetap terkendali lewat Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera bersama TPIP dan TPID.

"Ke depan, inflasi volatile food diprakirakan tetap terkendali, didukung oleh sinergi erat pengendalian inflasi Bank Indonesia bersama TPIP dan TPID melalui Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera," ujar Ramdan.

Inflasi Inti Melandai, Emas Perhiasan Masih Jadi Andil

Komponen inflasi inti September 2026 tercatat 0,10% mtm, lebih rendah dari 0,21% pada Agustus. Secara tahunan, inflasi inti turun ke 2,84% yoy dari 2,92% yoy bulan sebelumnya.

Pergerakan ini membalikkan tren Agustus yang sempat naik ke 2,92% yoy dari 2,76% yoy pada Juli. Kenaikan harga emas perhiasan seiring reli emas dunia masih jadi andil utama, bersama biaya kuliah perguruan tinggi.

Ramdan menilai pengendalian ekspektasi inflasi oleh BI efektif menjaga komponen inti dari dampak krisis eksternal. "Secara tahunan, inflasi inti pada September 2026 tercatat sebesar 2,84 persen, lebih rendah dibandingkan realisasi bulan sebelumnya sebesar 2,92 persen," katanya.

Harga Diatur Pemerintah Nyaris Stagnan

Kelompok administered prices mencatat inflasi mendekati 0% mtm pada September. Angka ini berbalik dari deflasi 0,33% mtm pada Agustus yang ditopang penurunan tarif angkutan udara dan penyesuaian harga BBM nonsubsidi.

BI memastikan terus mengawal pergerakan harga komoditas utama agar tidak melampaui batas toleransi inflasi nasional. Antisipasi juga disiapkan menghadapi risiko gejolak eksternal yang berpotensi memengaruhi laju inflasi domestik.

Apa Artinya bagi Pasar dan Pelaku Usaha

Bagi investor obligasi, inflasi inti yang melandai ke 2,84% yoy memberi ruang bagi BI mempertahankan stance suku bunga akomodatif. Risiko utama justru datang dari volatile food yang naik dua kali lipat dalam sebulan.

Pelaku usaha pangan dan ritel perlu mengantisipasi tekanan biaya bahan baku, terutama cabai, beras, dan telur, yang harganya bergerak mengikuti cuaca di sentra produksi. BI meyakini inflasi tetap terkendali dalam kisaran sasaran 2,5 plus minus 1 persen pada 2026 dan 2027.

Follow sultengmonitor.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: kabarbursa.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks