Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid menegaskan kemudahan investasi dan pembangunan infrastruktur penunjang menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem ekspor daerah. Realisasi investasi Sulawesi Tengah 2025 mencapai Rp 127,2 triliun, menempatkan provinsi ini di peringkat lima nasional dan tertinggi di luar Pulau Jawa. Pemerintah provinsi mendorong sektor perikanan, pertanian, dan perkebunan ikut berkontribusi, tidak hanya bertumpu pada hilirisasi tambang.
PALU — Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid menyatakan penguatan kemudahan investasi dan pembangunan infrastruktur penunjang menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem ekspor daerah. Komitmen itu disampaikannya dalam kegiatan Deklarasi Perkarantinaan Gerakan 1.000 Pelaku Usaha Ekspor dan UMKM menuju Pasar Global di Palu, Senin.
"Penguatan kemudahan investasi dan pembangunan infrastruktur penunjang menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem ekspor daerah, itu menjadi komitmen kami dalam keperluan ketahanan ekonomi daerah," kata Anwar Hafid.
Menurut gubernur, sektor investasi merupakan salah satu penggerak roda perekonomian daerah. Pemerintah provinsi berupaya memperkuat komoditas unggulan agar tidak berhenti sebagai bahan mentah, tetapi berkembang menjadi produk bernilai tambah.
Realisasi Investasi Sulteng Capai Rp 127,2 Triliun
Data Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) mencatat realisasi nilai investasi Sulawesi Tengah 2025 mencapai Rp 127,2 triliun. Capaian itu menempatkan Sulteng di peringkat lima nasional dan tertinggi di luar Pulau Jawa.
Realisasi investasi tersebut masih ditopang sektor hilirisasi sumber daya mineral atau pertambangan. Anwar menyatakan pihaknya berupaya agar sumber investasi tidak hanya berasal dari sektor pertambangan.
"Kami ingin sumber investasi tidak hanya berasal dari sektor pertambangan, kami berupaya sektor perikanan, pertanian dan perkebunan juga ikut berkontribusi terhadap perkembangan investasi dan ekspor daerah," ujarnya.
Gerakan 1.000 Pelaku Usaha Jadi Jembatan Komoditas Desa ke Pasar Global
Anwar menilai Gerakan 1.000 Pelaku Usaha dapat menjadi jembatan antara potensi komoditas di tingkat desa dan kebutuhan pasar internasional. Produk pertanian, perkebunan, perikanan, pangan, hingga olahan UMKM perlu diperkuat mulai dari standar produksi, sertifikasi, kemasan, ketertelusuran, hingga kontinuitas pasokan bila ingin masuk ke pasar ekspor.
Karena itu, para bupati dan wali kota perlu memperkuat masing-masing pelaku usaha di daerah. Pemerintah Sulawesi Tengah menyatakan siap berkolaborasi dalam menciptakan peluang-peluang ekspor.
"Kami berterima kasih kepada Badan Karantina Indonesia (Barantin), Kementerian UMKM dan Kementerian Hukum, Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal yang telah berkolaborasi dengan daerah untuk memajukan sektor usaha skala mikro, kecil dan menengah daerah supaya mereka naik kelas," tutur Anwar.
Kelapa, Ikan Sidat, hingga Durian Sudah Menembus Pasar Ekspor
Pemerintah provinsi juga menyatakan siap membantu menindaklanjuti klinik ekspor bagi pelaku usaha di Sulteng sebagaimana gagasan Barantin yang dikolaborasikan lintas kementerian. Sejumlah komoditas unggulan daerah disebut sudah masuk pasar ekspor, mulai dari kelapa, ikan sidat, hingga durian.
"Kami siap berkontribusi untuk memajukan produk-produk unggulan daerah supaya lebih banyak menembus pasar internasional. Sektor perkebunan komoditas kelapa, kemudian ikan Sidat serta sektor hortikultura komoditas durian dan sejumlah komoditas lainnya sudah masuk pasar ekspor. Keberhasilan itu tidak lepas dari peran Barantin sebagai institusi kekarantinaan," kata dia.