SULAWESI TENGAH — Rupiah membuka perdagangan Senin (12/10/2026) dengan pelemahan terbatas 0,03% ke Rp17.888/US$, lalu berbalik menguat 0,03% ke Rp17.872/US$ pada 09.04 WIB. Pergerakan mata uang Asia yang mayoritas menguat terhadap dolar Amerika Serikat menjadi pendorong utama pembalikan arah tersebut. Penguatan rupiah terjadi di tengah harga minyak yang terpangkas 1,35% ke US$103,31 per barel.
Bloomberg Technoz mencatat, pembalikan arah rupiah berlangsung cepat. Hanya berselang beberapa menit setelah dibuka melemah, rupiah sudah kembali ke zona positif. Won Korea Selatan memimpin penguatan kawasan dengan lonjakan 0,44%.
Penguatan won diikuti pergerakan serupa pada peso Filipina, ringgit Malaysia, yen Jepang, baht Thailand, dan dolar Singapura. Sebaliknya, dolar Taiwan melemah bersama yuan offshore dan yuan China yang tergerus tipis.
Harga minyak terpangkas 1,35% ke US$103,31 per barel. Penurunan terjadi setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan Rusia dan Ukraina bersepakat soal gencatan senjata energi.
Ketegangan di Timur Tengah belum sepenuhnya mereda. Kelompok Houthi menyerang bandara di Arab Saudi dan menyebabkan 12 orang meninggal dunia. Trump sebelumnya juga menyebut tidak akan ada penyerangan terhadap Iran hingga pemilihan umum sela di AS selesai.
Indeks dolar AS tergerus tipis 0,07% ke 102,13. Tekanan di pasar obligasi AS masih berlanjut dengan kenaikan yield US Treasury 1,1 basis poin menjadi 5,23%.
Tekanan tersebut belum sepenuhnya menular ke pasar obligasi Asia. Obligasi pemerintah Jepang relatif stabil di 3%, China di 1,67%, dan Korea Selatan di 4,39%.
Di pasar obligasi RI, yield Surat Utang Negara tenor 1-7 tahun terpantau turun dan bergerak di rentang 6,7% hingga 7,17%. Namun tenor acuan 10 tahun masih terkerek naik 2,5 bps menjadi 7,2%.
Perbedaan arah yield tenor pendek dan tenor acuan menunjukkan investor masih mencermati risiko jangka panjang. Tenor pendek lebih responsif terhadap pergerakan likuiditas harian, sementara tenor 10 tahun jadi acuan ekspektasi inflasi dan kebijakan suku bunga ke depan.
Pergerakan rupiah ke depan akan bergantung pada arah mata uang Asia dan perkembangan geopolitik Timur Tengah. Klaim gencatan senjata energi antara Rusia dan Ukraina, jika terealisasi, berpotensi menekan harga minyak lebih lanjut dan mengurangi tekanan terhadap mata uang kawasan.
Investor obligasi perlu mencermati pergerakan yield US Treasury. Kenaikan yield acuan AS berpotensi menarik modal keluar dari pasar obligasi negara berkembang, termasuk Indonesia.