Industri Olahraga Indonesia Diminta Berkembang Jadi Sektor Ekonomi, Belanja Capai Rp39 Triliun

Penulis: Oki Setiawan  •  Senin, 14 September 2026 | 11:01:32 WIB
Direktur Kompetisi I.League Asep Saputra berbicara dalam gelar wicara di Indonesia Sports Summit 2026 di Jakarta, Minggu (13/09/2026).

Direktur Kompetisi I.League Asep Saputra menilai kompetisi olahraga Indonesia harus terus didorong berkembang menjadi industri agar berkontribusi lebih besar ke ekonomi negara. Dalam gelar wicara di Indonesia Sports Summit 2026 di Jakarta, Minggu (13/09/2026), ia menyebut kolaborasi pemerintah, swasta, klub, komunitas, dan UMKM sebagai kunci penggalian potensi tersebut.

JAKARTA — Data Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) menunjukkan estimasi belanja olahraga mencapai Rp39 triliun dan menyumbang 0,19 persen terhadap perekonomian nasional pada 2024. Angka itu dinilai masih bisa didorong lebih tinggi lewat ekosistem olahraga yang tertata.

Direktur Kompetisi I.League, Asep Saputra, menyampaikan hal tersebut dalam gelar wicara bertajuk "Masa Depan dan Ekosistem Kompetisi Olahraga Nasional: Pertumbuhan Minat, Dampak Ekonomi dan Prospek Industri Olahraga Indonesia" di Indonesia Sports Summit (ISS) 2026, JICC, Jakarta, Minggu (13/09/2026).

Kolaborasi Jadi Syarat Utama

Asep menegaskan bahwa gairah dan peluang besar di sektor olahraga tidak bisa digarap sendiri. Menurutnya, dibutuhkan kerja sama lintas pihak agar potensi tersebut berubah menjadi nilai yang berkelanjutan.

"Ada big passion (gairah yang besar) dan kesempatan. Untuk menggalinya tentu membutuhkan kolaborasi semua pihak," ujar Asep.

Ia menyebut kolaborasi idealnya terjalin antara pemerintah, sektor swasta, klub, komunitas, dan UMKM. Dengan begitu, olahraga tidak hanya menjadi ajang pertandingan, tetapi juga memberi pemasukan bagi ekonomi nasional.

Populasi dan Minat Jadi Modal

Indonesia memiliki modal besar untuk mengembangkan industri olahraga. Asep menyoroti jumlah populasi dan tingginya minat masyarakat terhadap olahraga sebagai dua aset utama yang belum tergarap maksimal.

Namun, ia mengingatkan dampak ekonomi tidak akan muncul dengan sendirinya. "Dampak ekonomi yang baik itu tidak bisa tercipta otomatis, kita harus desain," kata Asep.

Sepak Bola 90 Menit, Nilai Ekonominya Lebih Panjang

Asep mencontohkan sepak bola yang hanya berlangsung 90 menit di lapangan. Ekosistem di sekitarnya, menurut dia, dapat menciptakan nilai ekonomi yang jauh lebih besar dari durasi pertandingan itu sendiri.

Untuk itu, I.League menyatakan ingin bertransformasi dari sekadar operator pertandingan menjadi pembentuk ekosistem. Pengembangan kompetisi diarahkan untuk menciptakan pertandingan yang lebih baik, menjangkau audiens lebih besar, dan menghasilkan nilai yang lebih tinggi.

Langkah tersebut sejalan dengan upaya mendorong industri olahraga nasional agar tidak berhenti pada penyelenggaraan acara, tetapi tumbuh menjadi sektor yang menopang perekonomian.

Reporter: Oki Setiawan
Sumber: sulteng.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top