SULAWESI TENGAH — Pekalongan tidak hanya berhenti pada julukan Kota Batik. Saat malam tiba, deretan warung makan di sepanjang jalan utama dan kawasan alun-alun berubah menjadi tujuan favorit bagi warga lokal maupun pelancong. Aroma rempah yang khas dari kuah pekat langsung terasa begitu mendekati area ini.
Bagi Anda yang tengah merencanakan perjalanan mudik atau liburan akhir pekan, berikut tiga warung kuliner malam di Pekalongan yang selalu ramai pembeli. Setiap tempat punya ciri khas rasa yang sulit ditemukan di daerah lain.
Warung yang berdiri sejak tahun 1959 ini menjadi tujuan utama para pecinta olahan daging sapi. Ciri khasnya terletak pada kuah hitam pekat yang mirip rawon, namun diberi sentuhan asam dari belimbing wuluh. Perpaduan ini menciptakan rasa gurih, sedikit pedas, dan menyegarkan di tengah malam.
Daging sapinya dimasak hingga teksturnya sangat empuk, melebur di lidah. Racikan rempah yang digunakan merupakan resep turun-temurun yang dijaga keasliannya selama lebih dari enam dekade.
Pengalaman makan malam di Pekalongan terasa lebih hangat jika dilakukan sambil lesehan di atas tikar. Di kawasan Alun-Alun Kota Pekalongan, terdapat warung lesehan yang menyajikan nasi megono, hidangan khas yang terbuat dari cacahan nangka muda berbumbu gurih dan sedikit asin.
Nasi megono disajikan bersama aneka lauk pauk yang melimpah. Anda bisa memilih gorengan hangat atau sate-satean yang dimasak di tempat. Suasana lesehan dengan semilir angin malam membuat pengalaman bersantap terasa lebih santai dan otentik.
Antrean panjang di depan warung ini hampir selalu terlihat setiap malam. Sego Rakyat Mbak Ibah menyajikan nasi megono otentik yang dipadukan dengan beragam lauk populer. Yang paling banyak dicari adalah cumi masak hitam, ayam goreng, dan aneka jeroan yang dimasak dengan bumbu khas.
Meski namanya "rakyat", kualitas rasanya tidak main-main. Warung ini membuktikan bahwa hidangan sederhana bisa menjadi favorit banyak orang jika diolah dengan resep yang tepat dan bahan-bahan segar.
Waktu terbaik untuk datang adalah sekitar pukul 18.30 hingga 20.00 WIB. Pada jam tersebut, pilihan lauk masih lengkap dan suasana belum terlalu ramai. Jika Anda datang bersama keluarga besar, sebaiknya tiba lebih awal untuk mendapatkan tempat duduk yang nyaman, terutama di warung lesehan.
Untuk Anda yang membawa kendaraan pribadi, area sekitar Jl. Jend. Sudirman dan Alun-Alun Pekalongan memiliki beberapa titik parkir. Namun, saat akhir pekan, volume kendaraan meningkat drastis. Gunakan transportasi daring atau ojek lokal jika ingin menghindari kebingungan mencari parkir.
Kuliner malam Pekalongan menawarkan lebih dari sekadar pengisi perut. Hidangan-hidangan ini adalah bagian dari identitas kota yang sudah bertahan puluhan tahun. Satu malam di Pekalongan mungkin tidak cukup untuk mencoba semuanya, tapi tiga warung di atas adalah titik awal yang tepat untuk mengenal cita rasa asli kota ini.