SULAWESI TENGAH — Yoshida, yang kini lebih banyak berbicara terbuka sebagai veteran industri, melihat AI sebagai pisau bermata dua. Di satu sisi, teknologi ini mempercepat proses produksi secara drastis. Seorang seniman atau desainer yang tidak paham coding kini bisa menciptakan game utuh berkat AI yang mampu menuliskan kode pemrograman.
Menurut Yoshida, dampak paling nyata dari AI adalah hilangnya hambatan teknis untuk membuat game. "AI tools memungkinkan hampir semua orang menjadi developer game," ujarnya. Konsekuensinya, jumlah game yang dirilis akan melonjak ke level yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Bagi gamer, ini kabar baik karena variasi pilihan semakin banyak. Namun bagi mereka yang menggantungkan hidup dari industri ini, Yoshida melihat ancaman serius. "Bagi siapa pun yang ingin menghasilkan uang dari pengembangan game, kami akan melihat kompetisi yang lebih sulit ke depannya," kata Yoshida dalam wawancara tersebut.
"Sebagai penggemar game, saya sangat antusias melihat masa depan dan banyaknya game menarik yang akan rilis. Tetapi dari sudut pandang developer, ini akan menjadi masa depan yang sangat sulit," tegas Yoshida.
Kekhawatiran terbesarnya bukan sekadar banyaknya pesaing, melainkan fenomena decision paralysis di kalangan konsumen. Dengan ribuan opsi tersedia, pemain justru bisa kebingungan memilih dan akhirnya tidak membeli game sama sekali. Hal ini berpotensi menekan angka penjualan game AAA yang selama ini mengandalkan rilis besar.
Di kesempatan yang sama, Yoshida juga mengomentari keputusan PlayStation untuk menghentikan seluruh produksi disk fisik pada Januari 2028. Menurutnya, keputusan ini "mungkin bukan masalah besar" karena game versi fisik saat ini pun sering kali tetap membutuhkan unduhan tambahan, sama seperti media digital.
Kendati demikian, ia mengakui sisi sentimental dari koleksi fisik. "Akan sangat disayangkan jika game fisik tidak lagi tersedia untuk dikoleksi," ungkapnya. Pernyataan ini muncul di tengah tren digitalisasi penuh yang mulai diadopsi publisher besar, seiring meningkatnya penjualan game digital di toko seperti PlayStation Store.
Bagi komunitas game Indonesia, pesan Yoshida relevan dengan ekosistem developer lokal yang sedang berkembang. AI bisa menjadi alat untuk menembus pasar global tanpa modal besar, seperti yang dilakukan beberapa studio indie Tanah Air. Namun, tanpa strategi pemasaran yang kuat, game lokal berisiko tenggelam di lautan judul yang dirilis setiap hari.
Di sisi lain, keputusan Sony menghentikan disk fisik pada 2028 akan berdampak pada kolektor di Indonesia yang masih aktif membeli game console dalam bentuk fisik. Harga game digital yang sering kali lebih mahal dari disk bekas juga bisa menjadi kendala bagi sebagian gamer dengan budget terbatas.
Yoshida sendiri terus blak-blakan soal berbagai aspek industri, mulai dari alasan dirinya mundur dari posisi penting di PlayStation hingga pandangannya soal Steam Machine. Pernyataan terbarunya ini menambah daftar panjang kritik internal terhadap arah industri yang semakin bergantung pada teknologi otomatisasi.