Ketika Stasiun Isi Daya Menentukan Siapa yang Berani Pindah ke Listrik

Penulis: Kurniadi Setiawan  •  Jumat, 14 Agustus 2026 | 00:31:01 WIB
Seorang pengendara mengisi daya mobil listriknya di stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) di tengah perjalanan, Selasa (12/3/2026).

SULAWESI TENGAH — Pukul sebelas malam di Cilacap, Ferdiana hampir menyerah. Karyawan swasta asal Bandung itu sedang di tengah perjalanan panjang bersama mobil listriknya — rute yang ia susun melingkari separuh Jawa: Bandung, Semarang, Solo, Tawangmangu, Telaga Sarangan, Yogyakarta, Cilacap, Pangandaran, lalu pulang. Baterai menipis, dan hasil pencarian stasiun pengisian umum di kota itu hanya menampilkan satu titik dengan konektor yang sesuai, jauh dari tujuannya.

SPKLU yang Konsentris di Kota Besar, Bukan di Jalur Mudik

Kisah Ferdiana menjelaskan mengapa harga tidak lagi menjadi satu-satunya tembok penghalang. Data Korlantas Polri mencatat populasi kendaraan listrik nasional mencapai 413.542 unit per Maret 2026. PLN mencatat 4.769 unit Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum di seluruh Indonesia. Rasio satu titik pengisian untuk setiap 87 kendaraan itu pun menipu karena persebarannya tidak merata.

"SPKLU saat ini masih terkonsentrasi di kota-kota besar, sementara wilayah luar kota hingga perdesaan belum mendapatkan akses yang memadai," kata Yannes Martinus Pasaribu, pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung.

Di Jakarta atau Surabaya, pertanyaan soal pengisian daya nyaris tidak muncul. Ia baru terasa di kota-kota menengah, di jalur selatan Jawa, di ruas yang tidak dilalui rombongan mudik — tempat yang justru menjadi tujuan perjalanan panjang keluarga Indonesia. Laporan PwC Electric Vehicle Readiness 2025 mencatat 55 persen responden Indonesia yang skeptis mengkhawatirkan jarak tempuh dan 42 persen mempersoalkan waktu pengisian. Skor kesiapan infrastruktur Indonesia dalam laporan itu hanya 1,4 dari skala 5, jauh di bawah Singapura yang mencatat 4,3.

Harga Masuk Zona Rp150–200 Jutaan, Infrastruktur yang Belum Menyusul

Argumen harga mulai kehilangan tenaga. Yannes menyebut ambang batas yang cukup spesifik: "Yang paling fundamental adalah harga BEV harus masuk zona Rp150 juta–200 jutaan agar menyentuh kelas menengah yang sesungguhnya." Zona itu sekarang terisi. Beberapa model mobil listrik kompak sudah dibanderol di kisaran tersebut, sebagian dengan skema berlangganan baterai yang menekan harga awal lebih jauh.

Ferdiana mendapatkan micro-SUV listriknya pada April lalu seharga Rp128 juta on the road — hasil kombinasi promo peralihan kendaraan bensin ke listrik. Harga normalnya berkisar Rp156 juta dengan skema sewa baterai, atau Rp227,65 juta bila dibeli sekalian dengan baterainya.

Cara Pabrikan Menambal Sendiri Petanya

Menghadapi kekosongan itu, sejumlah pabrikan memilih tidak menunggu. Mereka membangun jaringan pengisian sendiri. Ferdiana merasakan langsung manfaatnya: dari ratusan kilometer yang ia tempuh, hanya satu kali ia membayar biaya pengisian — sebesar Rp30 ribu di sebuah hotel. Sisanya ditanggung program pengisian gratis di jaringan milik pabrikan, yang untuk mereknya berlaku hingga Maret 2029.

"Sangat mudah menemukan charger, sehingga selama perjalanan saya hanya satu kali mengeluarkan biaya," katanya. "Itu pun karena malas ke tempat charger dan ingin bersantai di hotel."

Di luar jaringan tersebut, biayanya tetap rendah. Max Cullen, pemilik Tribes Lounge Surabaya yang mengendarai model yang sama, menghitungnya dengan sederhana: "Untuk full charge dari nol ke seratus persen di SPKLU lainnya hanya Rp40 ribuan saja, dan bisa digunakan 210 kilometer. Yang menarik lagi, pajaknya cuma Rp150 ribu per tahun."

Hitung-hitungan Bulanan: Rp200 Ribu vs Rp670 Ribu

Bila diterjemahkan ke pemakaian bulanan, seorang pengendara kota yang menempuh 1.000 kilometer membutuhkan sekitar lima kali pengisian penuh — di bawah Rp200 ribu, itu pun bila seluruhnya dilakukan di luar jaringan gratis. Sebagai pembanding kasar, mobil bensin sekelas dengan konsumsi 15 kilometer per liter menghabiskan sekitar Rp670 ribu untuk jarak yang sama.

Selisih semacam itu yang membuat banyak pemilik baru bertahan. Ferdiana bahkan mengaku terdorong membeli unit kedua. Namun catatan pentingnya: semua perhitungan ini hanya berlaku jika Anda tinggal di kota yang jaringannya sudah terpasang, atau bersedia merencanakan perjalanan dengan cermat seperti Ferdiana — yang sempat "hopeless" sebelum aplikasi pabrikan menyelamatkannya di Cilacap.

Verdict: mobil listrik kini layak dipertimbangkan secara ekonomi, tetapi kesiapan infrastruktur di jalur perjalanan Anda tetap penentu utama. Sebelum membeli, cek dulu peta SPKLU di rute yang biasa Anda tempuh — bukan cuma di kota domisili.

Reporter: Kurniadi Setiawan
Sumber: otosia.liputan6.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top