Pemprov Sulteng Gandeng Unisa Palu Riset Penyakit Bangkalan Durian, Targetkan Ekspor ke China

Penulis: Oki Setiawan  •  Kamis, 13 Agustus 2026 | 13:06:31 WIB
Pemprov Sulteng dan Unisa Palu menandatangani kerja sama riset untuk menangani penyakit bangkalan pada durian.

PALU — Pemprov Sulawesi Tengah tidak lagi membiarkan penyakit bangkalan menghambat durian lokal menembus pasar internasional. Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) Sulteng bersama Unisa Palu menandatangani kerja sama riset untuk menciptakan penangkal penyakit yang selama ini merugikan petani tersebut.

"Bangkalan menjadi momok bagi petani durian, hingga kini belum ada obat-obatan mengatasi penyakit itu. Harapan kami adanya kerja sama riset antara Dinas TPH Sulteng bersama Unisa Palu dapat menciptakan penangkal penyakit buah tersebut," kata Gubernur Anwar Hafid dalam acara Merdeka Ekspor Durian Sulawesi Tengah 2026 di Palu, Rabu.

Belum Ada Obat, Petani Andalkan Sanitasi Kebun

Penyakit bangkalan menyerang kualitas buah dan membuat petani kesulitan memenuhi standar ekspor. Saat ini, upaya yang dilakukan petani baru sebatas langkah preventif seperti sanitasi kebun, pengaturan kelembaban, pemupukan berimbang, hingga penerapan fungisida dan biopestisida secara rutin.

Keluhan terbesar petani yang masuk ke pemerintah daerah memang didominasi persoalan penyakit buah ini. Padahal, prospek pasar durian di luar negeri, terutama China, sedang sangat terbuka lebar.

"Kami berupaya mencari solusi mengatasi model penyakit buah tersebut, karena prospek pasar durian saat ini di luar negeri terutama China sangat menjanjikan, maka produksi di daerah harus ditopang dengan penerapan protokol ekspor," ujar Anwar.

Luas Kebun 36 Ribu Hektare, Poso dan Parigi Moutong Jadi Sentra Utama

Data Dinas TPH Sulteng mencatat luas kebun durian di provinsi ini baru mencapai sekitar 36 ribu hektare, dengan 12 ribu hektare di antaranya sudah berproduksi. Potensi produksi durian Sulteng mencapai 95.140 ton yang tersebar di seluruh kabupaten/kota.

Kabupaten Poso dan Parigi Moutong mendominasi sebagai sentra durian terbanyak berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025.

"Itu artinya potensi komoditas hortikultura itu sangat besar. Maka melalui program berani panen, Pemprov Sulteng terus berupaya memaksimalkan tata kelola hilirisasi pertanian supaya memiliki nilai yang lebih untuk membantu menunjang pertumbuhan ekonomi daerah," jelas gubernur.

Regulasi Khusus dan Rekayasa Musim Panen Jadi Langkah Lanjutan

Selain riset penyakit, Pemprov Sulteng berencana menerbitkan regulasi khusus untuk komoditas durian. Rekayasa musim panen juga disiapkan agar pasokan buah tidak melimpah di satu waktu dan harga tetap stabil.

Gubernur menekankan para petani harus mengedepankan kualitas buah sejak dari hulu. Pasar ekspor sangat selektif terhadap mutu produk, sehingga sinergi dari tingkat petani hingga industri hilir wajib berjalan sejalan agar produksi berkelanjutan.

"Kami juga segera mengatur regulasi khusus untuk durian, termasuk rekayasa musim panen supaya terus berkelanjutan," kata Anwar.

Reporter: Oki Setiawan
Sumber: sulteng.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top