SULAWESI TENGAH — Memiliki mobil listrik tidak berhenti di urusan membeli unitnya. Setelah Jaecoo J5 EV keluar dari dealer, pertanyaan paling krusial justru muncul di rumah: dari mana mobil ini diisi dayanya setiap malam? Pengalaman pemilik yang sudah menempuh 11.000 kilometer jadi salah satu bahan evaluasi paling jujur, jauh dari sekadar klaim pabrikan di atas kertas.
Jaecoo J5 EV hadir sebagai SUV listrik yang mengandalkan desain dan fitur sebagai daya tarik utama. Di kelasnya, performa yang ditawarkan terbilang bertenaga, cukup untuk penggunaan harian di perkotaan maupun perjalanan antar kota.
Setelah ribuan kilometer, pemilik biasanya mulai merasakan ritme baru: menghitung jarak tempuh, mencari titik pengisian, dan memastikan baterai tidak sampai kosong di tengah jalan. Kebiasaan ini yang membedakan pengguna mobil listrik dengan pengguna mobil konvensional.
Ketergantungan pada Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) bisa merepotkan, apalagi jika jaraknya jauh dari rumah. Karena itu, memasang wall charger atau home charging menjadi pilihan paling praktis bagi pemilik mobil listrik di Indonesia.
Perangkat ini memungkinkan baterai diisi penuh saat kendaraan sedang diparkir di rumah. Namun, biaya pembelian unit dan pemasangannya perlu masuk hitungan sejak awal, bukan setelah mobil tiba di rumah. Angka ini sering kali menjadi kejutan kecil yang tidak muncul di brosur penjualan.
Bicara soal mobil listrik, pasar Indonesia kini punya lebih banyak opsi di segmen harga tertentu. Dua model yang cukup ramai diperbincangkan adalah Chery Q dan Geely EX2, keduanya menyasar segmen mobil listrik ringkas dengan harga bersaing.
Chery Q resmi dijual untuk umum pada Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026, sementara Geely EX2 sudah lebih dulu hadir. Keduanya punya perbedaan cukup signifikan, mulai dari kapasitas baterai hingga fitur yang ditawarkan. Perbedaan inilah yang harus dicermati calon pembeli sebelum memutuskan.
Di sisi lain, pengguna mobil konvensional juga mendapat angin segar. Mulai 1 Agustus 2026, harga Pertamax (RON 92) turun menjadi Rp 15.950 per liter dari sebelumnya Rp 16.250. Penurunan Rp 300 ini berlaku di DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur.
Meski selisihnya terlihat kecil, untuk perjalanan jarak jauh seperti Jakarta-Bandung, penghematan tetap terasa di kantong. Perbandingan biaya operasional antara mobil bensin dan listrik pun semakin menarik untuk dikalkulasi ulang.
Keputusan membeli mobil listrik tidak bisa hanya berdasarkan harga jual atau fitur. Ada tiga hal yang wajib dipersiapkan: ketersediaan wall charger di rumah, biaya listrik bulanan yang akan bertambah, dan akses ke SPKLU untuk perjalanan jarak jauh.
Jaecoo J5 EV menawarkan paket yang lengkap di atas kertas. Namun, pengalaman 11.000 kilometer menunjukkan bahwa infrastruktur pengisian di rumah adalah penentu kenyamanan harian. Tanpa itu, mobil listrik justru bisa menjadi sumber stres baru.
Untuk pembaca yang sedang mempertimbangkan SUV listrik di kelas ini, pastikan dulu rumah Anda siap menerima instalasi wall charger. Kalau tidak, hitung ulang anggaran untuk biaya pengisian di SPKLU publik setiap minggunya. Dua angka inilah yang akan menentukan apakah memiliki EV benar-benar lebih hemat dibandingkan mobil bensin.