SULAWESI TENGAH — Kegiatan yang digelar di kantor Pertamina EP Jambi itu menghadirkan materi langsung dari tim Health, Safety, Security and Environment (HSSE) serta petugas pemadam kebakaran internal perusahaan. Para wartawan dari media cetak, elektronik, dan daring diajak memahami perbedaan karakteristik kebakaran di sumur, pipa, dan tangki migas, termasuk faktor risiko gas beracun H2S.
Dalam sesi edukasi, jurnalis diperkenalkan pada prosedur tanggap darurat "shutdown, isolate, extinguish" serta alur evakuasi dan zona aman. Materi lain mencakup tata cara peliputan aman, mulai dari jarak minimal, penggunaan alat pelindung diri (APD), hingga hal-hal yang boleh dan tidak boleh direkam saat insiden berlangsung.
Pjs Field Manager PT Pertamina EP Field Jambi, Alfian Mayando, menekankan peran vital media saat terjadi keadaan darurat. “Informasi cepat dari media bisa membantu edukasi masyarakat, tapi jika keliru bisa memicu hoaks,” ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima Antara, Selasa.
Tim HSSE mempraktikkan penggunaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR), hidran, dan teknik pemadaman awal api minyak. Simulasi ini, menurut perusahaan, memberi gambaran nyata bagaimana petugas bekerja di kondisi darurat. Pertamina EP Jambi menyebut kegiatan ini bagian dari komitmen transparansi dan tanggung jawab perusahaan kepada publik.
“Kami ingin jurnalis paham teknis dasar penanganan kebakaran migas. Dengan begitu pemberitaan lebih berimbang, tidak spekulatif, dan tetap mengedepankan keselamatan. Ini bentuk sinergi Pertamina EP Jambi dengan media sebagai mitra strategis,” kata Alfian Mayando.
Para peserta mengapresiasi materi yang aplikatif. Rahmadani, salah satu jurnalis senior di Jambi, menilai edukasi ini penting karena karakteristik kebakaran migas berbeda dengan kebakaran umum. “Kami jadi tahu zona bahaya, jenis APAR yang dipakai, dan batas aman saat meliput. Ini sangat berguna untuk keselamatan kami di lapangan,” katanya.
Pertamina EP Jambi menegaskan operasi migas mereka berpegang pada prinsip zero accident. Ke depan, perusahaan berencana menggelar pelatihan serupa secara rutin dan mengajak media turun langsung ke area operasi saat simulasi tanggap darurat digelar.