Kenaikan Harga BBM 37% Dorong AISMOLI Minta Pemerintah Percepat Adopsi Motor Listrik

Penulis: Nanda Firmansyah  •  Jumat, 19 Juni 2026 | 00:23:01 WIB
Kenaikan harga BBM 37% mendorong AISMOLI meminta percepatan adopsi motor listrik di Indonesia.

SULAWESI TENGAH — Kenaikan harga BBM yang signifikan—mencapai 37 persen—telah mengubah peta jalan energi rumah tangga Indonesia. Menurut data AISMOLI, hampir 20 persen pengeluaran rumah tangga kini tersedot untuk kebutuhan kendaraan, mulai dari pembelian, perawatan, pajak, hingga bahan bakar. Di tengah pelemahan nilai tukar rupiah, tekanan fiskal ini dinilai bisa ditekan dengan adopsi kendaraan listrik.

Subsidi BBM Jadi Beban APBN, Motor Listrik Tawarkan Solusi Permanen

Budi Setiyadi menjelaskan, setiap satu unit kendaraan listrik yang menggantikan kendaraan berbahan bakar fosil secara permanen akan menghapus konsumsi BBM dari rumah tangga tersebut. “Efek jangka panjangnya kita akan mengurangi subsidi BBM yang tinggi,” ujar Budi dalam keterangan resmi, Kamis (18/6/2026).

Ia menambahkan, langkah ini juga memperkecil eksposur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) terhadap fluktuasi harga energi global yang saat ini tidak menentu. Bagi pemerintah, kata Budi, kebijakan ini jangan diposisikan sebagai beban, melainkan peluang strategis untuk memimpin perubahan.

96,8 Persen Pengguna Siap Rekomendasikan, Harga Jadi Kendala Utama

Data internal AISMOLI menunjukkan tingkat kepuasan pengguna kendaraan listrik sangat tinggi. Sebanyak 96,8 persen pengguna mengaku siap merekomendasikan kendaraan tersebut kepada orang lain. Alasan utamanya: biaya operasional lebih rendah, perawatan lebih mudah, dan pajak lebih ringan.

Namun, antusiasme itu belum sepenuhnya berbanding lurus dengan adopsi massal. Harga kendaraan listrik yang masih relatif tinggi dibandingkan motor bensin menjadi hambatan utama. “Dukungan masyarakat yang tinggi perlu direspons dengan kebijakan yang konsisten dan berkelanjutan,” tegas Budi.

Pemerintah Diminta Konsisten, Produksi Dalam Negeri Jadi Kunci

AISMOLI mendorong agar harga kendaraan listrik semakin terjangkau melalui insentif fiskal dan peningkatan produksi dalam negeri. Dengan begitu, kendaraan rendah emisi bisa diproduksi lebih efisien dan harganya bisa bersaing langsung dengan motor konvensional.

Budi berharap, momentum kenaikan BBM ini tidak disia-siakan. “Bagi pemerintah, ini jangan diposisikan sebagai beban, melainkan peluang untuk memimpin perubahan yang didukung dan diharapkan oleh mayoritas masyarakat,” ujarnya mengulang penekanan.

Tanpa kebijakan yang konsisten, transisi energi di sektor transportasi roda dua—yang merupakan tulang punggung mobilitas masyarakat Indonesia—berpotensi berjalan terseok-seok. Padahal, efek domino dari adopsi massal motor listrik bisa langsung terasa pada pengurangan beban subsidi BBM negara.

Reporter: Nanda Firmansyah
Sumber: ekbis.sindonews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top