SIGI — Manajer Area Yayasan Sheep Wilayah Sulawesi Tengah, Masturidho, menegaskan bahwa jurnalis memiliki peran krusial dalam membentuk persepsi publik soal mitigasi bencana. “Kami ingin memberikan pemahaman bersama mengenai PRB-API kepada para jurnalis, tentunya sebagai bahan untuk lebih memperkuat narasi dalam pemberitaan,” ujarnya.
Selama ini, pemberitaan bencana di Pasigala kerap terjebak pada fase tanggap darurat—banjir, gempa, atau longsor—tanpa menyentuh akar masalah jangka panjang. Masturidho menekankan perlunya jurnalis mengangkat isu adaptasi perubahan iklim yang bersifat struktural. “Pemberitaan harus berbasis data, sains, dan perspektif masyarakat,” katanya.
Dalam dua tahun terakhir, Yayasan Sheep bersama Pokja PRB-API telah memetakan sejumlah kawasan rawan di Sulteng. Untuk Kota Palu, intervensi difokuskan pada Daerah Aliran Sungai (DAS) yang membentang dari Sigi hingga ke kawasan pesisir. Wilayah pesisir Donggala juga masuk dalam prioritas lantaran kerentanan terhadap abrasi dan gelombang tinggi.
Diskusi ini tidak berhenti pada pertemuan satu hari. Masturidho mengungkapkan harapannya agar terbentuk komunitas jurnalis yang konsisten mengawal isu PRB-API. “Ke depan, dari kegiatan ini akan terbentuk komunitas jurnalis yang konsen dengan isu-isu PRB-API,” jelasnya. Komunitas ini diharapkan menjadi mitra kritis bagi pemerintah daerah dalam perencanaan tata ruang dan mitigasi.
Puluhan jurnalis yang hadir berasal dari media cetak, daring, dan penyiaran di wilayah Pasigala. Mereka mendapatkan materi tentang teknik reportase kebencanaan, verifikasi data iklim, hingga cara menyajikan informasi yang tidak menimbulkan kepanikan publik. Kegiatan ini merupakan bagian dari program penguatan kapasitas masyarakat sipil di Sulawesi Tengah.