Alih-alih membangun gedung beton bertingkat di daratan, Samsung memilih jalur laut. Divisi pembuatan kapalnya, Samsung Heavy Industries, menggandeng Capital Clean Energy Carriers yang berbasis di Yunani untuk merancang kapal khusus yang sejak awal dirancang sebagai pusat data, bukan sekadar mengonversi kapal bekas seperti yang dilakukan Hitachi bersama Mitsui O.S.K. Lines.
Model FDC yang dikembangkan Samsung sudah berkapasitas 50 megawatt — setara dengan kebutuhan listrik ribuan rumah tangga. Sistem kelistrikannya dirancang hybrid: bisa diisi dari darat atau menggunakan pembangkit listrik mandiri di atas kapal.
Ini bukan proyek iseng. Samsung Heavy Industries meneken perjanjian dengan Supermicro, perusahaan server asal Amerika Serikat, untuk mengembangkan tata letak server yang tahan terhadap getaran kapal, kelembaban tinggi, dan korosi akibat garam laut. Semua faktor itu menjadi tantangan teknis utama yang harus dipecahkan sebelum prototipe benar-benar berlayar.
Beberapa pekan lalu, Samsung menambahkan satu mitra lagi: Mousterian Corporation dari Dallas, Texas. Perusahaan ini spesialis mengembangkan infrastruktur pusat data yang berada di atas air atau di tepi perairan. CEO Mousterian, Min Suh, menyebut kemitraan dengan Samsung Heavy Industries sebagai bukti nyata bahwa desain pusat data terapung layak secara bisnis.
"Bekerja sama dengan perusahaan pembuatan kapal sekelas Samsung menunjukkan bahwa model ini bukan lagi sekadar konsep," ujar Min Suh dalam pernyataan resminya.
Samsung Heavy Industries sebenarnya sudah meneken perjanjian dengan OpenAI beberapa bulan lalu untuk memperluas kapasitas pusat data AI secara global. Jika model FDC ini berhasil diuji, bukan tidak mungkin sebagian dari pusat data tersebut akan mengapung di lautan, bukan berdiri di daratan.
Saat ini, tim Samsung bersama Capital Clean Energy masih dalam tahap validasi konsep. Mereka menguji keandalan kapal saat menangani beban kerja data, potensi kerusakan akibat getaran, serta dampak lingkungan seperti kelembaban dan salinitas. Wakil Presiden Eksekutif sekaligus CTO Samsung Heavy Industries, Young-kyu Ahn, menyebut FDC sebagai model bisnis baru yang memadukan kemampuan pembuatan kapal dengan infrastruktur digital.
Meski belum ada kepastian kapan proyek ini akan berlayar ke perairan Asia Tenggara, model pusat data terapung bisa menjadi solusi bagi negara kepulauan seperti Indonesia. Keterbatasan lahan di kota-kota besar dan risiko gempa bumi sering menjadi kendala pembangunan data center konvensional. Konsep FDC memungkinkan pusat data ditempatkan di lepas pantai, dekat dengan kabel laut, dan tidak bersaing dengan kebutuhan lahan darat.
Namun, tantangan regulasi dan infrastruktur kelistrikan di perairan Indonesia masih perlu diuji sebelum teknologi ini bisa diadopsi secara lokal. Samsung sendiri belum mengumumkan target penyelesaian prototipe atau lokasi uji coba perdananya.