Kontradiksi ini sulit diabaikan. Pada Minggu (15/6), Microsoft menggelar pameran tahunan Xbox di Los Angeles—menampilkan Halo remake, prekuel Gears of War, dan game aksi baru Senua. Di acara yang sama, Asha Sharma mengumumkan bahwa pemegang badge khusus—yang membayar sendiri perjalanan ke LA—akan mendapat Xbox Series X edisi terbatas gratis. Suasana pesta.
Tiga hari kemudian, nada berubah drastis. Sebuah surat terbuka untuk karyawan Xbox yang ditandatangani "Asha and Matt"—merujuk pada Sharma dan Matt Booty, kepala studio Xbox—mengumumkan bahwa divisi tersebut "saat ini tidak mampu memproduksi konsol sebanyak yang diinginkan pembeli" dan telah "terlalu berekspansi" dalam akuisisi studio selama beberapa tahun terakhir.
Memo berjudul "Next 100 Days: Xbox Reset" itu memperingatkan bahwa bisnis Xbox hanya mencetak margin laba 3%—angka yang sangat rendah jika dibandingkan dengan laba bersih Microsoft secara keseluruhan yang mencapai US$32 miliar (sekitar Rp512 triliun) hanya dalam kuartal terakhir. "Divisi ini tidak membiayai studionya secara memadai untuk bersaing dan menang," tulis memo tersebut, mengakui bahwa biaya perangkat keras kini melonjak lebih dari 5 kali lipat dibanding dua tahun lalu.
Ironinya, Sharma dan Booty menyebut kondisi ini sebagai "krisis komponen perangkat keras"—padahal Microsoft sendiri yang menciptakan kondisi yang mengarah pada krisis tersebut. "Memberikan banyak konsol gratis sambil mengeluh tidak bisa memproduksi cukup untuk memenuhi permintaan adalah kemunafikan yang nyata," tulis analis industri dalam laporan yang dikutip oleh The Verge edisi Indonesia.
Memo tersebut menegaskan bahwa Xbox bertekad "membangun perusahaan game dan hiburan nomor satu," namun mengakui "infrastruktur platform saat ini tidak dibangun untuk pertempuran ke depan." Bahasa Orwellian ini—merayakan kesuksesan sambil memperingatkan pilihan sulit—bukanlah hal baru di industri teknologi. "Kami mendengar kalian," tulis Sharma kepada para penggemar. Namun bagi para pengembang di studio Xbox yang akan terkena PHK pada Juli mendatang—awal tahun fiskal baru Microsoft—pesan itu terasa hambar.
Keputusan Sharma untuk memulai masa jabatannya dengan PHK bukanlah kejutan. Analis menilai ia dipekerjakan bukan untuk membuat keputusan brilian yang mengubah arah raksasa korporasi dalam semalam, melainkan untuk "tersenyum meyakinkan sambil menyajikan satu demi satu kebijakan pahit."
Langkah-langkah kontradiktif Xbox dalam beberapa bulan terakhir—bolak-balik soal game eksklusif, polling di X.com apakah harus memakai huruf kapital pada nama merek, dan wacana "memberdayakan jenis game baru" yang bisa bertahan di tengah krisis RAM—semuanya menunjukkan kegagapan mencari arah yang jelas. Sementara itu, para pengembang yang menciptakan "waralaba penentu industri dengan potensi dan permintaan pemain yang sangat besar"—seperti diakui memo tersebut—justru tidak mendapatkan investasi yang memadai.
"Kami adalah salah satu dari sedikit tempat di mana orang datang tidak hanya untuk bermain, tetapi untuk terhubung dengan orang lain dan menciptakan kenangan," tulis Sharma dan Booty di akhir memo. Bagi ribuan karyawan yang akan kehilangan pekerjaan bulan depan, kalimat penutup itu terasa seperti tepukan di punggung yang sinis.