SULAWESI TENGAH — Seorang pengguna ROG Ally X mengakui handheld gaming Windows-nya kini hanya menjadi pajangan di rak. Padahal, saat pertama dibeli, perangkat ini menawarkan spesifikasi yang menggoda: layar 120Hz dengan variable refresh rate, joystick yang lebih baik, dan baterai berkapasitas besar yang menjadi solusi kelemahan ROG Ally generasi pertama.
Masalahnya bukan pada performa, melainkan pada perawatan yang diperlukan. Handheld gaming berbasis Windows ternyata membutuhkan perhatian yang sama rumitnya dengan workstation atau PC desktop.
Pembaruan driver, manajemen penyimpanan, hingga pengaturan aplikasi di sistem operasi Windows menjadi pekerjaan rumah yang melelahkan. Pengguna harus rela meluangkan waktu untuk urusan teknis ini, bukan langsung bermain game.
Berbeda dengan Nintendo Switch atau Steam Deck yang lebih plug-and-play, handheld Windows seperti ROG Ally X menuntut penggunanya paham seluk-beluk sistem operasi. Bagi gamer awam, ini bisa menjadi hambatan besar.
Pengalaman ini menunjukkan bahwa spesifikasi tinggi saja tidak cukup. Faktor kemudahan penggunaan dan perawatan justru menjadi penentu apakah perangkat akan dipakai rutin atau hanya jadi pajangan.
Spesifikasi itu memang mengesankan di atas kertas. Namun, realitas pemakaian harian menunjukkan bahwa handheld ini lebih cocok untuk pengguna yang sudah terbiasa dengan ekosistem Windows dan tidak keberatan dengan urusan teknis.
ROG Ally X dan handheld Windows sejenis sebenarnya punya potensi besar. Namun, beban perawatan yang tinggi membuatnya kurang ideal untuk gamer yang hanya ingin colok dan main.
Untuk pengguna Indonesia yang mencari handheld gaming, pertimbangkan apakah Anda siap dengan urusan driver dan update Windows. Jika tidak, konsol genggam lain mungkin jadi pilihan yang lebih bijak.