PALU — Di usia yang masih 13 tahun, Muhammad Fahmil Burhan Latara telah membuktikan bahwa anak daerah mampu bersaing di level Asia. Atlet tenis meja asal Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, ini berhasil menembus ajang 2nd STIGA ASEAN Table Tennis Championship Challenge 2026 yang akan mempertemukan atlet-atlet muda terbaik dari berbagai negara di kawasan Asia Tenggara.
Pencapaian Fahmil tidak datang secara instan. Ia mencatatkan prestasi gemilang dengan meraih Juara 1 Liga IPL Zona Banten Wilayah 7 sebanyak tiga kali berturut-turut. Konsistensi inilah yang menjadi tiket baginya untuk melenggang ke kejuaraan antarnegara.
Di balik raket kecil yang digenggamnya, tersimpan kisah perjuangan yang jarang diketahui publik. Hingga saat ini, seluruh kebutuhan latihan, perjalanan mengikuti kejuaraan, hingga perlengkapan tenis meja ditanggung sepenuhnya oleh kedua orang tuanya, H. Burhan Latara, M.A. dan Hj. Fatma Said, M.Pd.
Tidak ada fasilitas mewah atau sponsor besar yang mendukung langkah Fahmil. Orang tuanya memilih untuk terus mendampingi dan memperjuangkan mimpi putranya agar tidak berhenti hanya karena keterbatasan biaya. Mereka percaya, prestasi bisa lahir dari daerah tanpa harus menunggu uluran tangan pihak ketiga.
Perjalanan Fahmil tidak sepenuhnya berjalan sendiri. Ia mendapat dukungan penuh dari para pelatih, yakni Coach Mulham, Coach Rio Triono, dan Coach Rianda. Dari lingkungan pendidikan, Kepala Sekolah SMP Negeri 4 Palu, Hj. Farida Batjo, bersama wali kelas dan para guru, terus memberikan motivasi agar Fahmil bisa menyeimbangkan antara prestasi akademik dan olahraga.
Dukungan moral ini menjadi fondasi penting bagi Fahmil yang harus membagi waktu antara latihan keras di meja tenis dan kewajiban belajar di sekolah.
Keberhasilan Fahmil menjadi kebanggaan bagi masyarakat Kabupaten Banggai dan Sulawesi Tengah. Namun, kisah ini juga menjadi cermin bagi para pemangku kepentingan. Berapa banyak anak berbakat di Sulawesi Tengah yang potensinya terhenti karena minimnya perhatian dan pembinaan berkelanjutan?
Fahmil adalah bukti bahwa prestasi internasional bisa lahir dari daerah dengan segala keterbatasan. Publik berharap Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah, para pemimpin daerah, dan dunia usaha dapat memberikan perhatian lebih kepada atlet-atlet muda berprestasi. Dukungan yang diberikan bukan semata untuk satu orang anak, melainkan investasi bagi masa depan olahraga Sulawesi Tengah.
Ketika seorang anak berusia 13 tahun berjuang membawa nama daerah dan Merah Putih dengan biaya keluarganya sendiri, ia telah mengajarkan arti cinta kepada daerah dan bangsa. Langkah Fahmil di Kejuaraan ASEAN 2026 diharapkan menjadi awal lahirnya atlet-atlet besar dari Sulawesi Tengah.