Tenaga Surya Kian Mendominasi Listrik Global, Gas Alam Mulai Ditinggalkan di 61 Negara Termasuk Jepang dan Italia

Penulis: Nanda Firmansyah  •  Selasa, 09 Juni 2026 | 10:00:01 WIB
Pembangkit listrik tenaga surya global tumbuh pesat, menggeser dominasi gas alam di 61 negara.

SULAWESI TENGAH — Laporan Ember yang dirilis pekan ini mencatat pergeseran signifikan dalam bauran energi global. Pangsa gas alam di pembangkit listrik dunia turun untuk tahun kelima berturut-turut, dari 23,9 persen pada 2020 menjadi 21,8 persen pada 2025. Meski produksi listrik dari gas masih naik tipis secara absolut, laju pertumbuhannya melambat drastis karena tenaga surya dan angin menyerap hampir seluruh permintaan listrik baru.

Pertumbuhan Gas 2021–2025 Hanya Separuh dari Periode Sebelumnya

Data Ember menunjukkan bahwa pada 2025, pembangkit listrik tenaga surya global bertambah 636 TWh—17 kali lipat dibandingkan gas yang hanya naik 38 TWh. Dengan kata lain, tenaga surya memasok sekitar 75 persen dari pertumbuhan permintaan listrik dunia tahun lalu, sementara gas hanya berkontribusi sekitar 5 persen.

“Ekonomi dan keamanan energi untuk listrik semakin bergerak ke arah yang sama,” ujar Malgorzata Wiatros-Motyka, analis senior Ember. “Seiring energi terbarukan menekan biaya dan mengurangi paparan terhadap fluktuasi harga bahan bakar serta gangguan geopolitik, gas perlahan kehilangan keunggulan yang dulu menjadikannya bahan bakar utama untuk pertumbuhan sistem kelistrikan.”

Perang Ukraina dan Konflik Timur Tengah Mempercepat Transisi

Ember menilai kondisi yang dulu membuat gas dianggap sebagai “bahan bakar transisi” telah berubah cepat. Invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 memicu lonjakan harga dan memperlihatkan risiko ketergantungan pada bahan bakar fosil impor. Kawasan Eropa dan Asia pun mempercepat pembangunan energi terbarukan. Gangguan pasar LNG terkait konflik Timur Tengah 2026 semakin memperkuat tren ini.

Di negara-negara G7, produksi listrik dari gas turun 50 TWh pada 2025, sementara energi terbarukan naik 123 TWh. Hampir setara dengan gas, energi bersih di G7 tahun lalu berhasil melampaui total pembangkit fosil.

China, India, dan Brasil Justru Minim Ketergantungan Gas

Negara dengan pertumbuhan permintaan listrik tercepat di dunia justru tidak bergantung besar pada gas. China, India, dan Brasil menyumbang sekitar 42 persen konsumsi listrik global pada 2025, tetapi porsi gas di masing-masing negara tetap rendah.

  • India: pangsa gas dalam bauran listrik turun dari 12,6 persen (2010) menjadi hanya 2,3 persen (2025).
  • Brasil: porsi gas turun dari 13,7 persen (2014) menjadi 7,3 persen (2025).
  • China: gas bertahan di kisaran 3 persen dari bauran listrik meski permintaan melonjak besar.

“Krisis geopolitik baru-baru ini menyoroti risiko ketergantungan pada gas impor,” kata Wiatros-Motyka. “Negara-negara semakin beralih ke energi terbarukan karena tersedia di dalam negeri, lebih stabil harganya, dan lebih cepat dibangun.”

AS Masih Jadi Motor Pertumbuhan Gas Global

Meski tren global menjauhi gas, Amerika Serikat tetap menjadi pengecualian. Negeri Paman Sam menyumbang 26 persen dari total pembangkit listrik gas dunia pada 2025 dan menjadi pendorong utama pertumbuhan gas dalam satu dekade terakhir. Namun, dengan hampir separuh negara produsen listrik gas sudah melewati puncak konsumsinya, Ember memperkirakan puncak konsumsi gas global bisa segera tercapai.

Reporter: Nanda Firmansyah
Sumber: electrek.co This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top