SULAWESI TENGAH — Pernyataan Teheran ini menjadi eskalasi retorika tertinggi sejak gencatan senjata sementara pada 8 April lalu gagal memulihkan stabilitas. Baqaei menyebut keterlibatan AS bukan sekadar dukungan politik, melainkan koordinasi taktis di tingkat komando militer. "Tanggung jawab langsung Amerika Serikat atas tindakan rezim zionis jelas, dan konsekuensi dari meningkatnya ketegangan juga akan ditanggung oleh AS," ujarnya dalam keterangan yang dikutip IRNA.
Serangan udara Israel dilaporkan menghantam sebuah perusahaan petrokimia di kawasan barat daya Iran. Pejabat setempat menyebutkan kompleks industri tersebut mengalami kerusakan parsial akibat serangan itu. Insiden ini terjadi bersamaan dengan bunyinya sirene peringatan di sejumlah kota di Israel, yang dipicu oleh peluncuran rudal balasan dari pihak Iran.
Dalam kesempatan yang sama, Baqaei juga melontarkan kritik pedas terhadap Direktur Jenderal IAEA, Rafael Grossi. Ia menilai pendekatan Grossi terhadap program nuklir Iran bersifat politis dan tidak bertanggung jawab. Tuduhan ini muncul di tengah kebuntuan negosiasi antara Teheran dan Badan Energi Atom Internasional terkait inspeksi fasilitas nuklir yang belum terselesaikan.
Kawasan Timur Tengah kembali berada dalam tekanan tinggi setelah AS dan Israel melancarkan serangan udara ke Iran pada akhir Februari lalu. Iran membalas dengan menyerang Israel dan negara-negara regional lain yang dianggap menampung aset militer AS. Kesepakatan gencatan senjata sementara yang dicapai pada 8 April hanya bertahan singkat. Negosiasi lanjutan terhenti akibat perbedaan pandangan mengenai pelaksanaan di lapangan serta perkembangan situasi keamanan regional selanjutnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Pemerintah Indonesia terkait eskalasi terbaru ini. Kementerian Luar Negeri RI sebelumnya telah menyerukan de-eskalasi dan dialog di kawasan melalui forum multilateral.