SULAWESI TENGAH — Bone, Sulawesi Selatan, dipilih sebagai lokasi utama proyek ini karena memiliki basis peternakan rakyat yang kuat dan produksi jagung yang melimpah. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Sulsel sebagai salah satu sentra jagung terbesar di Indonesia, menjadi faktor krusial mengingat pakan menyumbang sekitar 70 persen biaya usaha perunggasan.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Agung Suganda, menegaskan proyek ini bukan sekadar membangun pabrik. "Negara melalui BUMN akan menyiapkan bibit dan pakannya, kemudian akan menyerap hasilnya," kata Agung dalam keterangan resmi, Minggu (31/5/2026).
Dalam model yang dikembangkan, PT Berdikari akan memperkuat sektor hulu. Peternak rakyat akan menjadi pusat ekosistem usaha dengan sistem kemitraan yang menjamin penyerapan hasil panen. Pola ini dirancang untuk memutus masalah klasik peternak mandiri: fluktuasi harga pakan dan ketidakpastian pasar.
"Ini adalah proyek strategis nasional yang dijaga untuk membangun ekosistem hilirisasi ayam terintegrasi sekaligus memperkuat posisi peternak rakyat," ujar Agung.
Pemerintah Kabupaten Bone menyatakan kesiapan penuh. Bupati Bone Andi Asman Sulaiman mengungkapkan potensi besar daerahnya. "Kami punya luasan pertanian jagung di Bone sekitar 60 ribu hektare. Pada musim tertentu bahkan bisa mencapai 120 ribu hektare," kata Asman.
Menurutnya, industri ayam terintegrasi ini akan menciptakan efek berganda bagi perekonomian lokal. Kebutuhan bahan baku pakan bisa dipenuhi dari petani jagung setempat. Pemda juga siap mempercepat perizinan, penyediaan tenaga kerja, dan dukungan material agar proyek berjalan cepat.
Direktur Operasional Bisnis II PT Berdikari, I Putu Yastika, menekankan proyek ini bagian penting dari pengembangan hilirisasi ayam nasional. "Program ini bukan proyek kecil. Ini merupakan bagian penting dari pengembangan hilirisasi ayam nasional yang harus dibangun bersama-sama," kata Putu.
Ia menambahkan, keterbukaan dan kolaborasi erat antara pemerintah pusat, daerah, BUMN, dan peternak menjadi kunci. "Program ini tidak akan berhasil kalau kita tidak membangun komunikasi yang baik dan bersinergi bersama," ujarnya.
Harapan serupa disampaikan Ketua Lembaga Pemberdayaan Ekonomi Rakyat (LPER) Mulyadi Atma. Ia menilai skema ini memberi harapan baru bagi peternak mandiri yang selama ini menghadapi ketidakpastian usaha. "Harapan kami, program ini bisa langsung berjalan di sektor budidaya dengan melibatkan peternak-peternak mandiri yang ada di Sulawesi Selatan," kata Mulyadi.
Kementan menargetkan jika proyek di Bone berhasil, model serupa akan direplikasi di provinsi prioritas lainnya. "Kalau Bone berhasil, Insya Allah tempat lain berhasil," pungkas Agung.