SULAWESI TENGAH — Pernyataan tersebut disampaikan oleh pelatih berlisensi FIFA itu di sela-sela agenda pembinaan sepakbola usia muda di Jawa Timur, pekan lalu. Menurut Timo, antusiasme para siswi terhadap sepakbola sudah sangat tinggi, terbukti dari maraknya turnamen antarsekolah di berbagai daerah. Namun, semangat itu kerap meredup begitu kompetisi usai.
"Masalahnya bukan pada bakat. Banyak pemain muda putri yang punya skill dasar bagus saat pertandingan," ujar Timo dalam keterangannya. "Tapi setelah turnamen selesai, latihan mereka jadi jarang. Ini yang harus diubah."
Pelatih yang akrab disapa Coach Timo itu menekankan bahwa perkembangan pesepakbola tidak bisa hanya mengandalkan agenda pertandingan. Ia menyebut rutinitas latihan mandiri di luar klub atau sekolah sebagai fondasi yang tak boleh ditawar.
Pernyataan ini menjadi catatan tersendiri bagi para pengelola kompetisi dan pelatih di level sekolah. Sebab, selama ini fokus pembinaan lebih banyak tersedot pada penyelenggaraan turnamen, bukan pada keberlanjutan program latihan pasca-kompetisi. Timo menilai, konsistensi berlatih dua hingga tiga kali seminggu sudah cukup untuk menjaga progres pemain muda, asalkan dilakukan secara terstruktur.
"Jangan hanya mengejar gelar juara. Tapi pastikan setelah turnamen, pemain tetap punya program latihan. Kalau tidak, setiap kali kompetisi baru, mereka akan mulai dari nol lagi," tegasnya.
Coach Timo juga menyoroti peran orang tua dan pihak sekolah dalam mendukung konsistensi ini. Ia mendorong agar ekstrakurikuler sepakbola putri tidak hanya dijadikan kegiatan musiman. Dukungan logistik, jadwal latihan tetap, serta akses ke pelatih yang kompeten menjadi elemen yang perlu dipastikan.
Pembinaan usia muda, terutama di level putri, memang membutuhkan pendekatan berbeda. Dengan konsistensi yang terjaga, Timo optimistis kualitas sepakbola putri Indonesia akan merata dan tidak hanya bergantung pada satu atau dua daerah tertentu.